Transplantasi Sejak 2013


Malang Post, Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) sudah melakukan transplantasi ginjal sejak 2013 dengan 17 kali tindakan operasi. Menurut Wakil Direktur Pelayanan Medik Keperawatan RSSA Malang dr. Hanief Noersjahdu Sp.S, operasi kebanyakan dilakukan oleh para pasien yang ditanggung BPJS.
Sejauh ini, lanjutnya, proses transplantasi tersebut tidak pernah ada masalah dan dilakukan sesuai dengan SOP yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 38 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Transplantasi Organ.
Pada Permenkes Nomor 28 Tahun 2016, Pasal 19 ayat 1 butir c menyebutkan “membuat pernyataan tertulis tentang kesediaan pendonor menyumbangkan organ tubuhnya  secara sukarela tanpa meminta imbalan”. Sementara pada pasal 19 Ayat 1 butir g menyebut, “membuat pernyataan tidak melakukan penjualan organ ataupun perjanjian khusus lain dengan pihak resipien”.
“Banyak pasien yang masuk dalam waiting list, tapi tidak ada pendonor. Rata-rata yang menunggu dan mendonorkan adalah pasien BPJS. Sejauh ini, kami hanya menerima transplantasi ginjal saja, yang lain masih belum bisa,” ujar dia.
Hanif menjelaskan, pasien yang masuk dalam daftar tunggu tersebut tidak melulu karena persoalan medis. Tetapi memang karena sulit mendapatkan donor yang cocok. Hanya jika rekam medis antara kedua belah pihak cocok, maka operasi pun bisa dilangsungkan. “Banyak sekali prosedur yang harus dilakukan, prosesnya panjang dan tidak bisa serta merta langsung menjalankan operasi. Karena dalam melakukan transplantasi, tidak hanya atas nama individu saja, tapi juga rumah sakit,” kata dia.
Hanif melanjutkan, selama emapt tahun berjalan, pihaknya telah melakukan tranplantasi organ sesuai dengan SOP yang berlaku di RSSA dengan mengacu pada Permenkes 38 tahun 2016. Namun, jika ada transaksional sebelum operasi dan hal tersebut diketahui oleh tim dokter, operasi akan dibatalkan. Meskipun ada dalih hal tersebut dilakukan atas alasan ekonomi. “Dalam SOP tersebut sudah jelas, jika dalam proses tersebut ada unsur tawar menawar, maka tim akan langsung hentikan proses rekrutmen. Dalam melakukan tranplantasi organ memang dilakukan secara sukarela untuk menyumbangkan organ. Pihak pertama tidak boleh menuntut secara material maupun imaterial. Di luar itu, bukan tanggung jawab RS," tegas dia.
Dalam melakukan donor ginjal, Hanif menegaskan, penentuan penerima donor organ, tidak ada yang diprioritaskan. ”Tidak ada unsur prioritas. Kalau golongan darah pendonor dan calon penerima cocok, berarti bisa lanjut dengan melakukan operasi,” jelas dia.
Disinggung soal perkara yang terjadi kepada Ita Diana, pihaknya mengaku sedih karena dituding melakukan jual beli ginjal. Menurutnya, kasus transplantasi tersebut terjadi sekitar 10 bulan yang lalu. “Tapi baru mencuat sekarang. Ketika beritanya santer di masyrakat, kami langsung melakukan rapat internal. Keputusannya, kami akan melakukan audit secara internal. Hasilnya, kami masih belum bisa memastikan kapan. Lebih cepat lebih baik. Dari audit tersebut, nanti akan ketahuan,” pungkas dia.(fin/tea/han)

Berita Lainnya :