Tuntut Parpol Minta Maaf, Tunda Pilwali !


MALANG – Partai politik (parpol) harus meminta maaf kepada publik dan Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Malang ditunda. Dua poin itu mengemuka dalam diskusi yang akademisi Hukim Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (HTN-HAN), pasca penetapan 19 tersangka baru kasus korupsi berjamaah APBD-P 2015 dari eksekutif-legislatif Kota Malang.
Wakil Ketua Asosiasi Pengajar HTN-HAN Jatim, Dr Sulardi SH M.Si menegaskan poin tersebut. “Partai politik harus minta maaf kepada warga Kota Malang, karena telah mencalonkan tersangka kasus korupsi untuk menjadi kepala daerah,” kata Sulardi di ruang sidang 1 lantai 6 gedung A FH Universitas Brawijaya (UB).
Menurut pria yang juga akademisi Universitas Muhammadiyah Malang itu,  proses screening internal partai politik terhadap calon wali kota, bermasalah dan lemah. Menurutnya, parpol patut mempertanggungjawabkan pilihan calon wali kota yang diusung sebelum proses penetapan paslon oleh KPU.
Dalam argumentasi dalam panel diskusi, Sulardi tak hanya meminta parpol meminta maaf. Sulardi juga menegaskan Pilwali harus ditunda oleh KPU karena dua dari tiga calon wali kota sudah ditetapkan sebagai tersangka. Dia menyebut, penghentian pilkada harus didasari oleh bencana alam.
Namun, secara mendalam Sulardi menerjemahkan peristiwa penetapan tersangka dua cawali sebagai bencana sosial politik. “Bagi saya, penetapan tersangka dua cawali adalah bencana sosial politik. Sehingga, Pilwali harus ditunda,” sambungnya.
Dia mengaku tidak nyaman, bila Pilwali 2018 Kota Malang, hanya menyediakan satu pilihan, di luar dua cawali yang sudah tersangka. Menurutnya, proses demokrasi akan tercederai. Andai cawali yang belum tersangka menang Pilwali, Sulardi menyebut kemenangan itu karena masyarakat tidak lagi memiliki pilihan. Pasalnya, dua cawali lain sudah dilabeli sebagai tersangka.
Panelis lain, Dr M Ali Safa’at SH MH, akademisi FH UB mengatakan, jika para cawali mengesampingkan tudingan dan labelisasi publik untuk tetap maju dalam Pilwali, maka Ali memprediksi pertarungan calon N1 masih akan menarik dan seru. Karena, walaupun dua cawali sudah ditetapkan tersangka, calon yang tidak tersangka, belum tentu bisa menang.
“Peluang menang itu karena mesin partai pendukung dan tim sukses bekerja. Walaupun dua cawali akan terjadi penurunan pemilih, proses Pilwali saya rasa akan seru,” sambungnya.
Sementara itu, juru bicara Menawan, Ditto Arief yang hadir dalam diskusi meminta akademisi tidak serta merta menuduh tanpa mengedepankan azas praduga tak bersalah. Karena, persidangan belum digelar dan palu hakim belum diketuk.(fin/han)