Awasi 10 Alumni Suriah di Malang


MALANG - Polisi mengawasi ketat 10 alumni Suriah di Kabupaten Malang pascaserangan teroris beberapa hari terakhir. Mereka terdeteksi domisili di titik merah terorisme di Malang (Dau, Karangploso dan Singosari) serta Lawang.
Para alumni Suriah itu diduga pernah bergabung dengan  kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sebelum tahun 2016 dan 2017 lalu.(Lihat grafis). Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung mengakui terdapat 10 alumni Suriah di wilayahnya yang sedang dalam pengawasan.  “Salah satunya ada di Kecamatan Lawang yang sampai saat ini ini, terus kami pantau aktivitasnya,” ungkap Yade Setiawan Ujung.
Berdasarkan data yang dimiliki Malang Post, warga Kecamatan Lawang yang kini dalam pengawasan berinisial IAQ. Pada Januari 2017 lalu, IAQ bersama dua anaknya, MBM dan SAA, dideportasi pemerintah Turki. Mereka dipulangkan karena diduga akan bergabung dengan jaringan ISIS.
Bahkan, sebelum dipulang ke Kabupaten Malang, IAQ dan dua anaknya sempat diamankan di Mako Brimob Kelapa Dua, Jakarta. IAQ diketahui mengajak dua anaknya berangkat ke Suriah, untuk bertemu dengan ARA. ARA merupakan suami IAQ serta ayah dari MBM dan SAA yang sudah lebih dulu berangkat ke Suriah.
“Bentuk pengawasannya melekat. Yakni man to man marking oleh anggota,” ujar Ujung. Namun sejauh ini, kata perwira dengan dua melati dipundak ini, terhadap 10 orang tersebut masih  sebatas pengawasan. Belum ada penangkapan, karena belum terdeteksi melakukan tindakan terorisme.
“Kami hanya melakukan pengawasan melekat saja. Selama ini, belum ada pergerakan dari dari mereka (yang mengarah ke tindakan terorisme, red),” tuturnya.
Terkait riset Pakar Hubungan Internasional dan Terorisme Universitas Brawijaya (UB) Yusli Effendi, S.IP, MA, bahwa tiga kecamatan yakni Singosari, Karangploso dan Dau sebagai titik  merah terorisme, tidak dibantah oleh Yade Setiawan Ujung. Tiga wilayah tersebut, berdasarkan analisanya memang menjadi tempat tinggal sementara atau persembunyian terduga teroris.
“Memang kami sudah menyadari bahwa tiga kecamatan itu, sebagai zona merah. Selama ini, pengawasan terhadap tiga kecamatan tersebut sudah berjalan,” ungkapnya.
Menurut Ujung, berdasarkan analisa, Kecamatan Singosari, Karangploso dan Dau, menjadi pilihan untuk bersembunyi pelaku teroris, karena merupakan daerah perbatasan dengan Kota Batu. “Sebenarnya pilihan utama (persembunyian) di Kota Batu. Tetapi karena atas saran dan ajakan teman, akhirnya memilih tiga kecamatan itu. Dan mereka yang tinggal, rata-rata adalah jaringan JAD,” jelasnya.
Untuk langkah pengawasan, lanjut Ujung, sebetulnya Polres Malang telah menekankan kepada anggota Bhabinkamtibmas, supaya tamu yang menginap 1 x 24 jam wajib  melapor. Termasuk sudah memasang spanduk di seluruh wilayah di Kabupaten Malang. Itu supaya tidak ada ruang vakum di wilayah tersebut.
“Yang kami sesalkan adalah penangkapan terduga teroris di Karangploso. Sebelumnya sudah diminta KTP dan surat pindah oleh pihak desa, tetapi tidak diberi. Dan selama enam bulan ini, juga tidak ada laporan kepada kami. Begitu keduanya ditangkap, mereka baru menyampaikan kepada kami,” urainya.
Karenanya, dengan penangkapan kedua terduga teroris di Karangploso, Ujung, akan lebih memperketat keamanan. Ia juga meminta Bupati Malang Dr H Rendra Kresna untuk mengingatkan camat, kepala desa dan kepala dusun untuk bekerjasama mendata orang-orang asing yang selama ini dicurigai. Terutama RT dan RW, harus aktif memberikan informasi.
“Jangan sampai lagi, begitu ada penangkapan terduga teroris, warga baru menyampaikan kalau orang yang ditangkap itu tertutup dan tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat. Seharusnya kecurigaan atau kejanggalan seperti itu, disampaikan sejak awal sehingga kami bisa menganalisanya,” bebernya.  (agp/van)

Berita Lainnya :

loading...