Bidan Jadi Garda Terdepan

 
MALANG – Bupati Malang, Dr H Rendra Kresna memberi apresisasi tinggi kepada bidan yang turut serta berpartisipasi dalam mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Demikian apresiasi yang disampaikan Rendra, saat menghadiri Hari Jadi ke 66 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di halaman depan Kantor Dinkes Kabupaten Malang, kemarin.
Orang nomor satu di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang ini menyampaikan, angka kematian ibu dan bayi saat ini turun sebesar 50 persen.
“Angka kematian ibu serta angka kematian bayi di Kabupaten Malang masih di bawah Provinsi, Hal ini harus dipertahankan dan diupayakan terus turun,” ujarnya kepada wartawan.
Menurutnya, Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) turun tiap tahunnya, berkat kinerja tenaga medis yang andal. Terutama peranan bidan dalam membantu kelahiran ibu serta merawat bayi. Para bidan di desa-desa, menjadi ujung tombak dalam membantu para ibu melahirkan dan meningkatkan kessehatan bayi.
“Keberadaan seluruh bidan ini sangat penting. Para bidan menjadi garda terdepan dalam membantu ibu-ibu yang melahirkan. Selain itu, para bidan juga selalu ada apabila dibutuhkan,” terang Ketua DPW NasDem Jawa Timur ini. Selain peranan aktif bidan, Dinkes Kabupaten Malang sukses menerapkan inovasi untuk mengurangi AKI dan AKB.
Diantaranya, seperti program Home Care yang ada di Puskesmas Turen, dimana peran bidan sangatlah penting dalam hal preventif. Sehingga dalam satu tahun, anggaran puskesmas Turen untuk orang sakit mengalami penurunan. “Inovasi maupun terobosan tersebut harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi,” imbuhnya.
Melalui inovasi dalam bidang kesehatan itu, bupati berharap dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Terutama dalam menekan AKI dan AKB hingga angka nol. Sementara itu, Kepala Dinkes Kabupaten Malang, dr H Abdulrachman mengatakan, memang untuk sepanjang tahun 2016 AKI dan AKB menurun drastis sebesar 50 persen.
Apabila pada tahun 2015 terdapat 34 orang dan menurun pada tahun 2016 sebesar 17 orang. Sedangkan pada semester pertama tahun ini, hanya terdapat delapan orang. Sedangkan untuk AKB, pada tahun 2015 sebanyak 280 bayi tahun 2016 turun jadi 179 bayi. Sedangkan pada semester awal tahun ini, angkanya masih di bawah 100 bayi.  
“Hal ini berkat inovasi pelayanan Puskesmas yang melakukan jemput langsung ke masyarakat, melalui program home care,” tuturnya di tempat yang sama.
Selain itu, dia menyebut beberapa faktor lain menurunnya AKI dan AKB. Yakni kesadaran ibu dalam menjaga kesehatan dirinya serta anaknya semakin bagus dan terdapat jaminan persalinan.
“Melalui Jaminan Persalinan atau biasa disebut (Jampersal) ini, ibu dari keluarga tidak mampu dapat melahirkan secara gratis. Tentunya harus disertai surat keterangan dari RT maupun RW,” tutupnya.   (big/bua)

Berita Terkait

Berita Lainnya :