Dasar Kenaikan Retribusi Tak Jelas


KEPANJEN - Masalah kenaikan retribusi bulanan yang dikeluhkan Pedagang Pasar Kepanjen terus berlanjut. Pedagang menilai uang hasil retribusi bulanan yang dikumpulkan kepada pengelola pasar tidak jelas kegunaannya. Bahkan, diduga menguap.
Sebab selama ini, para pedagang secara swadaya memperbaiki kondisi atap pasar yang bocor saat diguyur hujan. Para pedagang menduga ada yang tidak beres terkait pengelolaan uang hasil retribusi bulanan tersebut.
Salah seorang pedagang mengaku bernama Slamet, 45, menerangkan nominal retribusi bulanan yang dikumpulkan pengelola pasar sangat besar. Apalagi jumlah pedagang yang berada di dalam pasar, sedikitnya ada 300 orang.
“Kalau setiap pedagang membayar retribusi bulanan sebesar Rp 135.000, maka terkumpul paling tidak terkumpul uang senilai Rp 40 jutaan. Nah, uang sebesar itu dikemanakan dan dibuat apa, yang tidak jelas,” ujarnya kepada Malang Post, kemarin.
Dia juga ragu hasil retribusi bulanan tersebut masuk ke kas daerah menjadi Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Kalau PAD kan seharusnya digunakan untuk keperluan pasar seperti renovasi maupun perbaikan. Nyatanya, kondisi pasar saat ini seperti begini,” keluhnya.
“Kalau musim hujan bocor dimana-mana,” tambah dia. Pedagang pasar, selama ini secara swadaya memperbaiki talang pasar yang bocor. “Pengelola pasar harus transparan tentang laporan hasil retribusi bulanan tersebut,” pintanya.
Sementara itu, pedagang lainnya bernama Ngateman juga mengeluhkan hal yang sama. “Kalau retribusi naik terus tapi kondisi pasar kayak gini terus, yang kasihan para pedagang,” terangnya. Dia melanjutkan, ada retribusi harian yang dibebankan kepada para PKL yang berjualan di luar.
Menurutnya, pengelola pasar harus menertibkan PKL yang berjualan sembarangan dengan menutup akses jalan raya. “Semenjak ada PKL di luar, pedagang yang di dalam sini sama-sama mengeluhkan kondisi semakin sepi. Pembeli malas membeli ke dalam,” terangnya.
Selain sepi, kata dia, keberadaan PKL juga membuat kondisi luar pasar semrawut dan membuat jalanan semakin macet. “PKL boleh berjualan tapi harus tertata dengan rapi. Jangan sampai mengganggu lainnya,” pinta dia.
Selanjutnya, dia berharap kepada pengelola pasar supaya mengatasi berbagai permasalahan yang ada di Pasar Kepanjen. Termasuk juga kejelasan terkait hasil dari retribusi bulanan harus lebih transparan lagi karena kondisi pasar sudah sepi.
“Sudah sepi masih harus membayar bulanan dan kalau jualan pada musim hujan atapnya bocor. Hal ini harus diperhatikan oleh pengelola pasar. Selain tugasnya menarik retribusi bulanan, pengelola pasar juga harus peduli dengan nasib para pedagang,” pungkasnya. (big/mar)

Berita Lainnya :