Jamasan Padang Bulan di Petirtan Desa Ngawonggo


Malang - Jamasan Padang Bulan digelar di Situs Petirtan Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Senin (7/8) malam. Tujuan diadakan ritual ini, untuk memperkenalkan Situs Patirtan Ngawonggo dan sekaligus uri-uri kebudayaan tradisional.
Memasuki malam hari, suasana Situs Petirtan Ngawonggo bukannya sepi, malah semakin ramai. Banyak masyarakat mendatangi situs yang ditemukan oleh salah seorang warga sekitar pada bulan April 2017 lalu. Masing-masing masyarakat membawa senter untuk menerangi jalan masuk menuju situs tersebut yang memang gelap gulita.
Masyarakat juga berhati-hati saat menuju situs berukuran kuran lebih 200 meter per segi ini. Lantaran tempatnya curam serta terjal, disertai jalan licin, maka masyarakat harus berhati-hati saat berjalan menuju situs itu. Meski demikian, mereka tetap antusias. Lantaran akan menyaksikan ritual Jamasan Padang Bulan yang baru dihelat pertama kali.
Tampak, di salah satu kolam petirtaan, sekelompok masyarakat mengenakan pakaian adat jawa sedang mempersiapkan ritual jamasan. Beberapa orang menyalakan dupa wangi, sehingga aroma kesakralan semakin terasa. Sedangkan beberapa orang lainnya, menyiapkan persyaratan ritual jamasan lainnya, yakni hasil bumi dan kembag tujuh rupa.
Prosesi diawali dengan pembacaan doa, kemudian dilakukan mandi atau jamasan dari pelaku ritual tersebut. Kemudian, dilanjutkan dengan penampilan tari Padang Bulan Purnama yang ditampilkan oleh dua orang penari yakni Agung dan Hendra. Kemudian ritual tersebut, dikahiri dengan larung sesaji ke Kali Manten tepat pukul 23.00 WIB.
Penemu Situs Petirtan Ngawonggo, Rahmat Yasin mengatakan,  ritual Jamasan Padang Bulan ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan tradisional. “Ritual Jamasan ini merupakan warisan budaya Jawa. Sehingga, keberadaannya harus dilestarikan supaya tetap tahan dengan gerusan oleh zaman moderinisasi,” ujarnyan kepada Malang Post.
Dia menjelaskan, situs tersebut memang cocok sebagai tempat penyelenggaraan ritual maupun kebudayaan tradisional. “Penyelenggaraan ritual ini sudah atas seizin desa dan dan pengelola cagar budaya yang ada di Desa Candi Kidal, Tumpang,” urainya.
Dia mengatakan, sejak situs ini ditemukan dan dibuka pada April 2017 mendatang, memang belum ada perhatian lebih dari pemerintah. “Diharapkan melalui diselenggarakannya ritual ini, pemerintah bisa lebih memperhatikan situs ini. Lantaran situs ini merupakan bagian dari peninggalan sejarah,” pungkasnya. (big/bua)

Berita Terkait

Berita Lainnya :