Lempar Kambing dan Ayam ke Kawah Bromo

IPUNK PURWANTO/MALANG POST
LARUNG SESAJI: Warga Suku Tengger dan wisatawan mengikuti ritual Yadnya Kasada di Gunung Bromo, sebagian berjaga menangkap hewan ternak yang dilempar ke Kawah Bromo, kemarin.
 
 
Upacara Yadnya Kasada
PROBOLINGGO - Larung sesaji menjadi penutup upacara Yadnya Kasada Bromo tahun 2019, Kamis (18/7) kemarin. Ritual ini digelar di kawah Gunung Bromo pada  pukul 06.00 WIB, diikuti oleh seluruh warga Suku Tengger. Mereka melemparkan ongkek ke kawah Gunung Bromo. Ongkek yang dibawa tidak hanya berbentuk hasil pertanian. Tapi juga hewan ternak seperti ayam atau kambing.
Salah satunya adalah pasangan suami istri Dewi Lestari dan Hendro Prasetyo. Mereka yang datang bersama lima anggota keluarga. Ada yang menuntun kambing dari lautan pasir lalu diajak mendaki Kawah Bromo. Hewan ternak itu sebagai sesembahan saat larung sesaji. Mereka kemudian melemparkan kambing dari bibir kawah, setelah membaca doa. 
 
Dewi mengaku memberikan kambing dalam larung sesaji ini tersebut, karena sudah nadzar. Dia pun berharap dengan menyembahkan hewan ternak, kehidupan keluarganya semakin baik dan selalu diberi kesehatan juga kesejahteraan.. 
”Kami berdoa agar semuanya diberi sehat dan kehidupan kami semakin sejahtera, dihindarkan dari segala mara bahaya," kata warga Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan ini kepada Malang Post.
Untuk itu, sebelum kambing tersebut dilempar ke dalam kawah, Dewi dan keluarganya yang lain pun berdoa di bibir kawah. Baru kemudian, kambing tersebut dilemparkan. 
 
Ritual yang sama juga dilakukan Suyadi. Warga Tosari, Kabupaten Pasuruan ini membawa seserahan untuk dilabuh di kawah Gunung Bromo. "Kami membawa hasil bumi. Kami berdoa, agar selalu mendapatkan keselamatan, dan dihindarkan dari malapetaka," ungkapnya.
 
Suyadi mengatakan labuh sesaji tidak hanya dilakukan saat upacara Yadnya Kasada.  "Hampir setiap malam Jumat legi kami melakukan labuhan," katanya.
 
Sementara kegiatan labuhan sendiri tidak dibatasi pagi hari. Banyak warga Suku Tengger melakukan labuh sesaji pada siang hari.
 
Tapi sebelum labuhan, para Suku Tengger menggelar upacara Yadnya Kasada Bromo tahun 2019 di Pura Ponten area lautan pasir. Ritual  ini digelar mulai pukul 03.00, ditandai pembacaan dengan japa mantra (doa) oleh Romo Dukun Pandita Suku Tengger Sutomo.  Suasana Gunung Bromo yang mulanya riuh, dengan musik-musik dan pun seketika hening, ketika japa mantra dirapal. Bahkan, musik pengiring Ongkek yang dimainkan warga Suku Tengger juga berhenti, saat mereka masuk area Pura Ponten. 
Saat itu udara di kawasan Gunung Bromo cukup dingin dengan suhu udara mencapai 7 derajat celcius. Kondisi itu sama sekali tak mengganggu warga Suku Tengger, mereka tetap khusuk mendengarkan japa mantra. Tidak terkecuali para pengunjung atau wisatawan yang datang untuk melihat ritual. Mereka juga hening. 
 
Japa mantra dirapal selama 10 menit. Dilanjutkan dengan pembacaan sejarah Kasada. Sama seperti pembacaan mantra, pembacaan sejarah, warga juga mendengarkan dengan khusyuk. Sejarah Kasada sendiri diceritakan Sutomo menggunakan bahasa Jawa. Di mana dalam sejarah tersebut diceritakan adanya sepasang suami istri yaitu Rara Anteng dan Jaka Seger sebagai penguasa suku Tengger. Keduanya lama menikah, namun tidak memiliki anak. Sehingga mereka pun bersemedi. Doa keduanya dikabulkan. Syaratnya, saat mereka memiliki keturunan,  anak bungsu harus dikorbankan.
Syarat itu disetujui oleh Rara Anteng dan Jaka Seger saat itu. Hingga akhirnya pasangan suami istri ini mendapatkan 25 anak. 
Ingkar janji pun terjadi saat itu. Baik Rara Anteng dan Jaka Seger tidak mau mempersembahkan anak bungsunya. Akibatnya terjadi malapetaka. Gunung Bromo mengamuk dengan menyemburkan api dari perut bumi. Semburan api itu mengenai anak bungsu pasangan Rara Anteng dan Joko Tengger. Dan saat anak bungsunya hilang terdengar suara, bahwa harus dilakukan larung sesajen di gunung Bromo tepat tanggal 14 bulan Kasada (Kalender Suku Tengger). Dan saat itulah upacara Kasada ini mulai digelar.
 
Warga Gubukklakah Ikut Seleksi Dukun Adat
 
Sementara ritual  Yadnya Kasada tahun 2019 ini berbeda dengan Yadnya Kasada tahun sebelumnya. Itu karena di tahun ini juga digelar seleksi calon Sulinggih Romo Mangku Dukun (dukun adat).  Ada tujuh kandidat yang ikut seleksi sebagai calon dukun adat. Yaitu, empat orang dari Desa Sedaeng, Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan, satu calon dukun adat desa Gubukklakah, Kecamatan Poncokusumo dan dua orang calon dukun dari  Desa Ledok Ombo, Kecamatan Sumber, Kabupaten Pasuruan.
 
Ketujuh calon ini wajib mengucapkan japa mantra di hadapan Sutomo, sebagai pemangku dukun di seluruh Suku Tengger.
 
Sukarji Kades Sedaeng, Kecamatan Tosari mengaku lega dengan adanya empat calon dukun yang ikut seleksi. Dengan adanya seleksi calon dukun, maka desanya pun akan memiliki dukun adat.
 
"Dukun adat yang lama meninggal tahun 2017 lalu. Selama itu kami tidak memiliki dukun adat. Jika ada kegiatan di desa kami, selalu mendatangkan dukun dari luar desa. Itu sebabnya besar harapan kami pada seleksi ini, semoga salah satu orang lolos, dan menjadi dukun adat di desa kami," urainya.
 
Dia mengatakan tahun lalu tidak bisa mengusulkan dukun adat, karena merupakan tahun pahing. Sehingga tidak ada seleksi untuk dukun adat. Seleksi dukun adat baru digelar tahun ini saat upacara Yadnya Kasada.
 
Empat calon dukun adat dari Desa Sedaeng sendiri ada empat. Pertama adalah Wagiri, kemudian Nomor dua adalah Maridinto, ketiga adalah Jais dan keempat adalah Indriyanto.
Para calon dukun ini datang tidak sendirian. Tapi bersama bersama keluarga. Tak terkecuali Indriyanto, dia datang diantarkan keluarga besarnya.
 
Iswantoro salah satu keluarga Indriyanto mengatakan jika menjadi dukun adat merupakan turunan. Sebelumnya ayahnya yang meninggal karena sakit tahun 2017 lalu. Selanjutnya sang adik yaitu Indriyanto mendaftarkan diri menjadi calon dukun kepada Kades Sedaeng, dilanjutkan kepada Pemangku Dukun Suku Tengger.
 
Pengucapan japa mantra oleh para calon dukun ini berlangsung 10 menit. Dan kegiatan dilanjutkan dengan larung. Sesaji di kawah Gunung Bromo. Larung sesaji ini sendiri dilakukan saat matahari terbit.(ira/rup/ary)
 

Berita Terkait