Limbah Plastik CV Jaya Makmur Diprotes Warga


MALANG – Keberadaan pabrik pengolahan biji plastik di Jalan Kauman, Pakisaji, diprotes warga sekitar. Masyarakat selama ini resah karena limbah dari CV Jaya Makmur tersebut, baunya sangat menyengat dan polusinya mengganggu pernafasan. Warga berharap supaya perusahaan yang ada di tengah perkampungan itu segera ditutup.
“Kalau siang hari memang tidak tercium baunya. Tetapi ketika malam hari, di atas maghrib, bau limbahnya pasti tercium,” ungkap Novan Ediono, salah satu warga sekitar yang dibenarkan oleh warga lainnya.
Menurut warga, asap limbah plastik itu mulai ada sejak pabrik pengolahan biji plastik tersebut ada. Sekitar dua bulan lalu. Sebelumnya, bangunan yang digunakan CV Jaya Makmur itu adalah perusahaan vulkanisir ban. Namun, karena mengalami pailit, akhirnya disewakan untuk pengolahan biji plastik, yang diketahui milik warga Pandaan.
Izin sewa bangunan itupun diketahui warga adalah untuk pengolahan karet ban. Namun, faktanya, justru malah digunakan untuk pengolahan biji plastik. “Setahu kami izinnya pengolahan karet untuk ban,” ujar Hendrik Wibisono, warga lainnya.
Dikatakan, limbah yang dikeluhkan oleh warga adalah asap dari pembakaran. Setiap pukul 18.00 ke atas, warga selalu mencium asap plastik terbakar yang keluar dari CV Jaya Makmur. Masyarakat terganggu karena asapnya menggangu pernafasan dan membuat sebagian warga mengalami sesak.
Warga sebelumnya sudah beberapa kali protes ke perusahaan. Meski sudah ada tanggapan dari perusahaan dengan membuat cerobong asap, tetapi baunya masih saja menyengat. Pasalnya cerobong asap yang dibangun, sangat pendek dan tidak sampai melebihi atap rumah warga.
“Jika tidak percaya mungkin bisa datang langsung malam hari ketika produksi. Bau asapnya pasti tercium sampai pinggir jalan raya. Itu sampai pagi hari menjelang Subuh,” tuturnya.
Bahkan selain limbah asap, warga juga menduga ada limbah cair yang dibuang di sungai. Karena selain lokasi pabrik berdempetan dengan sungai, warga juga sempat melihat ada cairan dari pabrik yang dibuang ke sungai melalui saluran lubang.
“Masyarakat sekitar sini semuanya resah. Meminta supaya pabrik ditutup atau pindah ke tempat lain,” katanya sembari menunjukkan bukti tanda tangan ratusan warga yang mengeluhkan soal limbah.
Terkait dengan limbah itu, lanjutnya, pada Februari 2018 lalu warga sudah berkirim surat pengaduan ke Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang. Bahkan, DLH sudah berkirim surat teguran ke CV Jaya Makmur, tertanggal 12 Februari. Yakni dengan memberi tenggang waktu selama 90 hari kepada perusahaan, untuk memperbaiki pengolahan limbah dan izin gangguan lingkungan.
Sementara itu, ketika Malang Post mengkofirmasikan ke perusahaan terkait masalah limbah yang diprotes, pemilik CV Jaya Makmur tidak ada di tempat. Menurut salah satu karyawannya, pemilik sedang berada di Pandaan, karena sedang tidak ada produksi. “Hari ini sedang libur, tidak produksi sehingga pemiliknya tidak datang. Kami sendiri, juga tidak mengetahui nomor kontaknya,” ucap salah satu karyawan.
Terpisah, Kepala DLH Kabupaten Malang, Budi Iswoyo, mengatakan akan mengecek ke lapangan terlebih dahulu terkait keluhan masyarakat soal limbah. “Kami akan cek dulu ke lapangan. Apakah pengelolaan limbahnya sesuai dengan SOP atau tidak. Setelah dari lapangan, nanti baru akan ditentukan sanksinya. Tetapi biasanya sanksi teguran terlebih dahulu,” tegas Budi Iswoyo. (agp/udi)

Berita Lainnya :