Please disable your adblock and script blockers to view this page


Pengusaha & Pedagang Butuh Distribusi Barang Lancar

Meski begitu kembali ditegaskannya, diperlukan pengelolaan yang baik nantinya untuk manajemen distribusi barang ke kota.
“Tiap bulan itu bisa lho 5.000 kendaraan baru ada di Kota Malang. Jika infrastruktur di tengah kota masih begitu saja bisa jadi tidak ada bedanya. Kalau tiga daerah kompak mengatur manajemen arus dari terminal kargo pasti akan baik. Dan lebih baik malah jika kerjasama melakukan manajemen lalinnya” tegas Edi.
Sementara itu Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Besar Kota Malang Rif’an Yasin pun mengeluarkan pendapatnya sebagai salah satu pihak yang juga membutuhkan solusi lain untuk distribusi barang dagangan.
Ia meminta manajemen dari distribusi barang jika memang Terminal Kargo dibuat harus lebih baik lagi. Pasalnya ia menceritakan selama ini kendaraan kecil memang lah yang menjadi perantara barang masuk sampai ke pasar.
“Kendaraan kapasitas besar tidak bisa berhenti di pasar besar, kendaraan besar ditaruh di Jagalan, kemudian diangkut pakai becak. Itu paketan-paketan untuk pedagang” ceritanya.
Jika Terminal Kargo memang terwujud, Rif’an meminta pemerintah mengatur kembali tata aturan distribusi ke pasar-pasar. Sehingga terdapat aturan tersendiri untuk Loading Dock dari kendaraan pengantar barang dari terminal kargo.
Tidak lagi nantinya menumpuk dengan lahan parkir seperti selama ini. Ia mengakui jika Pasar Besar sendiri tempat untuk “loading” barang kurang memadai. Karena terhimpit pula dengan parkir liar.
“Kami perlu tempat parkir sendiri untuk loading barang tadi. Didata dan ditata lagi” tegasnya.
Diskusi Terminal Kargo yang diadakan Malang Post ini masih berlanjut. Tidak hanya pandangan dari pengusaha ini saja yang terkupas, selanjutnya konsep besar pemda Malang Raya untuk Terminal Kargo pun dibahas. (ica/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :