Remaja Hobi Berburu, Kini Perajin Senjata Angin


MALANG - Joko Wahyudi, 34, tidak pernah membayangkan hobi berburunya sejak remaja menuntunnya menjadi seorang perajin senjata angin. Kemandirian usaha pria asal Jalan MT Hariono, Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung itu juga karena persoalan ekonomi yang menghimpitnya.
Awalnya, laki-laki yang murah senyum ini bekerja di salah satu stasiun radio amatir selama enam tahun.  Kurang mendapatkan penghasilan yang baik, ia mencoba memulai usaha itu. “Saya tidak terpikir untuk menggeluti pekerjaan ini,” tuturnya di ruang kerja yang sangat sederhana.
“Semua ini karena gara-gara hobi saya yang sejak remaja suka berburu burung pipit dan hama tikus di sawah menjelang musim panen,” tambahnya kepada Malang Post. Dari suka berburu itu, ia mulai mencoba memperbaiki senapannya sendiri saat rusak.
“Kalau orang lain, biasanya membawa senapan anginnya yang rusak ke tukangnya di Blitar atau Kediri. Ilmu saya pun makin bertambah setelah memperbaiki senapan angin yang saya miliki itu. Teman-teman juga minta bantuan untuk memperbaiki senapan yang rusak,” urai dia.
“Akhirnya ya sudah, saya terjun sekalian sebagai perajin senapan,” ujar dia.  Namun karena tidak memiliki modal, ia jual senapan angin yang dimilikinya untuk membeli beberapa alat untuk memulai usahanya tersbut.
Berjalan tiga bulan, pesanan dari luar pulau pun membanjirinya. Bahkan pesanan dari anggota Perbakin pun ikut datang. Mereka memintanya untuk membuatkan popor senapan. “Mungkin teman-teman menganggap hasil kerjaan saya memuaskan,” terang Yudi, sapaannya.  
Dalam sebulan, rata-rata dua senapan angin yang dibuatnya. Ia mengerjakan semua proses mulai awal hingga akhir sendiri. “Sehingga ada banyak pesanan seperti popor senapan yang terpaksa saya tolak karena keterbatasan tenaga dan orangnya,” tambah pria ini.
Dalam memperdagangkan senjata angin yang dibuatnya, ia tidak berani sembrono. Karena ia tahu ada aturan tentang penggunaan dan penjualan senapan angin. Selama tiga tahun ia mengerjakan senapan angin, tidak pernah ia menjualnya dengan sembunyi-sembunyi karena mengikuti peraturan yang ada.
Senapan angin yang diperbolehkan harus mempunyai kaliber tidak melebihi 4,5 milimeter dan panjang laras 60 cm. “Saya sudah penuhi itu. Meskipun ada beberapa orang yang mencoba pesan kaliber proyektil yang melebihi 4,5 milimeter, saya pasti tolak,” tutupnya. (eri/mar)

Berita Terkait