Teroris Singosari Mantan Ketua RT

 
MALANG – Hari Sudarwanto, 46 tahun, teroris asal Singosari ini ternyata sudah lama menjadi target polisi. Sebelum ditembak mati oleh Densus 88 Antiteror, pada Rabu malam di Jalan Avia, Komplek Perumahan AURI, Kelurahan Lemahputro, Kecamatan/Kabupaten Sidoarjo, Lupus, panggilan akrabnya penah jadi Ketua RT di Singosari.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak Kepolisian, warga Perum Bukit Singosari Raya (sekarang Perum Green Village Singhasari, red), Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari ini, sudah diawasi sejak 2016. Polisi mengintainya karena disinyalir terlibat jaringan teroris.
“Kami menyelidikinya sejak 2016 lalu. Namun selama ini, tidak ada pergerakan apapun. Baru dua bulan belakangan, kami mulai menyelidiki lagi,” ungkap salah satu sumber Malang Post.
Dari keterangan yang didapat, Lupus menjadi target Densus 88 Antiteror, pasca terjadi rentetan ledakan di Surabaya dan Sidoarjo. Bapak empat anak tersebut, diyakini kuat terlibat dalam jaringan terorisme. Bahkan, Lupus ditengara sebagai penyuplai bahan kimia untuk pembuatan bom kepada Budi Satrio.
Budi Satrio, adalah warga Perum Puri Maharani Blok A3, Masangan Wetan, Sukodono, Sidoarjo. Budi pada Senin (14/5) pagi lalu pukul 07.30, juga ditembak mati oleh Densus 88 Antiteror, karena melawan ketika ditangkap di rumahnya. Dia ini, diketahui kakak ipar dari Hari Sudarwanto alias Lupus.
Selain Budi Satrio dan Lupus, Wawan yang merupakan adik ipar Lupus atau adik kandung Budi, juga ikut menjadi target Densus 88 Anti Teror. Wawan juga meninggal dunia setelah ditembak oleh petugas, karena melawan saat ditangkap. Wawan dan Lupus, ditembak secara bersamaan saat akan dibekuk seusai salat Tarawih di Masjid Nurul Huda Sidoarjo.
Kemarin sore, pasca penembakan Densus 88 Antiteror bersama dengan Tim Inafis Polres Malang dibantu Polsek Singosari, langsung melakukan penggeledahan ke rumah Lupus Perum Green Village Singhasari, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari. Berdasarkan pantauan, petugas mulai berdatangan sekitar pukul 15.00.
Dengan penutup wajah, tiga petugas dari Densus 88 Antiteror, langsung mendobrak pintu rumah Lupus. Mereka langsung masuk dan menggeledah seisi ruangan. Sebagian petugas lainnya, berjaga di depan. Petugas memasang garis polisi supaya masyarakat tidak mendekat.
“Tolong menjauh, jangan mendekat. Ibu-ibu dan bapak-bapak, saya minta untuk masuk ke rumah saja,” ungkap seorang perwira polisi dengan tegas.
Selain menggeledah rumah Lupus, petugas juga menggeledah lima rumah lain. Yaitu rumah kosong samping rumah Lupus, serta beberapa rumah yang pernah disinggahi oleh Lupus serta Wawan. Penggeledahan dilakukan untuk mencari bukti petunjuk lain, keterlibatan mereka dalam jaringan terorisme.
Bahkan, hingga pukul 19.00, proses penggeledahan belum berakhir. “Masih menunggu Tim Inafis dari Polres Malang. Kemungkinan nanti dilanjut setelah Salat Isyak,” ujar salah satu petugas.
Rumah Hari Sudarwanto alias Lupus ini, berada paling ujung depan, di Perum Green Village Singhasari. Kondisi rumahnya sangat sederhana, namun bertingkat dua. Ketika Malang Post mendatangi rumahnya, rumah dalam keadaan kosong. Tidak seorang pun penghuni ada di rumah tersebut.
Lampu penerangan teras belakang dan depan masih menyala. Di depan teras ada mobil VW nopol N 726 BB, yang terparkir. Mobil berwarna orange tersebut, adalah milik Lupus. Dari keterangan Luluk Indahyani, tetangga persis samping rumah, kondisi rumah kosong sejak Minggu (13/5) sore. 
“Sejak Minggu rumah sudah kosong. Saya tidak ketemu lagi dengan Bunda (Fitri Amin Sugesti, istri Lupus, red) dan Pak Har (Hari Sudarwanto, red). Biasanya kalau ada di rumah, selalu terlihat di depan,” terang Luluk Indahyani.

Berita Terkait

Berita Lainnya :