Willy Hervindo, Profesional Maket Property Asal Kepanjen


KESUKSESAN tidak dilihat dari jenis pekerjaan yang terikat oleh waktu. Itulah yang dikatakan Willy Hervindo, warga Jalan Melati 293, Kelurahan Cepokomulyo, Kepanjen. Memilih resign dari perusahaannya dan membuka bisnis maket property. Hasilnya, dia merupakan satu dari 60 profesional maket property terbaik di Indonesia.
“Ada peluang yang menjanjikan dari bisnis ini,” tuturnya kali pertama kepada Malang Post.  Memulai membuat miniatur bangunan untuk visualisasi hasil rancangan struktur, interior, eksterior atau site plan dimulainya sejak tahun 2001.
Awalnya apa yang menjadi penghasilannya saat ini adalah kerja sampingan yang digelutinya saat masih bekerja sebagai arsitek. Laki-laki asal Tebing Tinggi, Sumatera Utara itu mengaku tidak bisa diam dan memilih bekerja serabutan.
“Banyak orang yang bilang jika sekarang ini saya kerja serabutan. Saya lebih banyak di ruangan rumah yang juga merupakan kantor sendiri. Saya tekuni bisnis musiman ini sejak 16 tahun lalu,” ujar Willy, sapaannya.   
Bisnis musiman yang dimaksud pria berusia 36 tahun itu, karena pesanan maket property rata-rata datang dalam awal tahun, pertengahan dan akhir tahun. Willy memberanikan untuk membuka sendiri bisnis maket properti yang dinamainya D'uwit Maquette itu.
Pekerjaan itu terbilang juga langka karena butuh ketelatenan tinggi untuk menggarapnya.  Selain itu, memerlukan ketahanan badan, ketelitian, kesabaran serta ketekunan. Itu terbukti dari setiap mendapat pesanan maket, bisa dikerjakannya hingga dua hari.
Willy mengaku sudah sering mencari pegawai, tapi tidak lebih dari tiga hari banyak yang keluar karena kurang kuatnya daya tahan tubuh. “Di Jatim saja hanya ada 10 orang yang memiliki bisnis maket property ini. Sedangkan di Malang ada lima, termasuk saya,” bebernya.
Selama menekuni maket property, ia pernah dua kali tumbang akibat gangguan ginjal yang menyerangnya. “Kerjanya duduk ditambahi kopi dan asap (rokok)  membuat saya tumbang dua kali. Untungnya segera saya periksakan sehingga tidak sampai rawat inap,” kenangnya.
Laki-laki kelahiran 18 Mei 1981 ini sekarang telah mengurangi jam kerjanya. Dulunya ia bekerja selama tiga bulan dengan jatah libur satu bulan. Kini ia hanya mengambil kerja selama dua bulan dengan libur satu bulan.
Telah banyak maket property yang dikerjakan. Mulai dari bangunan rumah sakit, sekolah, madrasah, masjid, pelabuhan, bendungan dan lainnya. Maket garapannya pun telah mencapai seluruh pulau nusantara dan luar negeri.
“Tahun 2016 saja ada 42 pembuatan maket property yang saya tolak karena deadline dan kurang orang. Tahun 2017 ini, hanya mengerjakan sekitar 20 maket. Untuk mengisi waktu luang, saya juga buat miniatur motor gede dari barang-barang bekas,” tutupnya. (eri/mar)

Berita Terkait

Berita Lainnya :