9 Bus Angkut Napi Teroris


 
CILACAP – Tidak perlu waktu lama bagi Polri untuk menindak 145 Narapidana Teroris yang terlibat kericuhan di Lapas Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Setelah menyerah tanpa syarat, Kamis (10/5) pagi, mereka langsung dikirim ke Lapas Pasir Putih, Nusakambangan Cilacap.
Dengan penjagaan ketat, 145 napi teroris tersebut diangkut 9 Bus Polisi yang tiba di Dermaga Wijayapura Pelindo III Pelabuhan Tanjung Intan pukul 17.10 langsung dibagi ke dua kapal pengangkut. 3 Bus dan mobil pendamping ikut Kapal pertama langsung masuk kapal pertama yang sudah disiapkan, dan 6 bus sisanya diangkut kapal kedua.
Hanya perlu 30 menit, tepatnya pukul 17.40, ke dua kapal dengan 9 bus berisi narapidana teroris tersebut melaju dari Wijayapura menuju Dermaga Sodong Pulau Nusakambangan. Pantauan Radarmas, Kapolres Cilacap, Dandim 0703 Cilacap ikut serta dalam kapal pengangkut napi teroris tersebut.
Sebelum kedatangan narapidana, Kapolres Cilacap, AKBP Djoko Julianto, mengatakan, nantinya napi teroris tersebut akan dibagi dalam dua lapas, di antaranya Lapas Pasir Putih.
"Hasil koordinasi. Nanti ditempatkan di dua lapas," ujarnya.
Dia memastikan sudah ada kesiapan penjagaan baik dari personil lapas dan kepolisian di Nusakambangan. 
Penjagaan perpindahan napi ke Nusakambangan melibatkan 650 personil. Mereka penggabungan dari Polres Cilacap, TNI dan Brimob Polda Jateng. Hingga pukul 21.00 belum ada rombongan pendamping narapidana belum ada yang kembali dari Nusakambangan. 
 
TPM : Kemarahan Para Napi Akumulatif
Koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM) Achmad Michdan menilai kerusuhan yang terjadi di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Selasa malam (8/5) adalah akumulasi kemarahan para napi. Selama ini, menurut Michdan, banyak perlakuan petugas yang dianggap tidak manusiawi.
Terkait insiden makanan, menurut Michdan memang sudah tradisi setiap menjelang bulan Ramadhan, keluarga para napi membawakan makanan dari rumah. Makanan ini amat dinantikan oleh para napi. Pasalnya, makanan yang diberikan oleh pihak rutan, menurut Michdan sangat kurang. Baik dari nilai nutrisi maupun porsi.
“Biasanya setiap Ramadhan, mereka boleh bawa makanan, sekarang tidak boleh, harus diperiksa segala macam, mungkin sudah SOP-nya,” kata Michdan di Jakarta kemarin (10/5).
Menurut Michdan, hampir separo keluarga para napi biasanya berkunjung sebelum Ramadhan. Dia mengaku terakhir kali melakukan kontak dengan salah seorang klien-nya di dalam rutan pada selasa malam (8/5) malam sekitar pukul 20.30 WIB. Si klien yang tak disebut namanya oleh Michdan ini mengabarkan dari dalam penjara melalui telepon.
“Katanya ia dengar suara tembakan, pak ada korban,” tutur Michdan.
Meski demikian, Michdan menyebut makanan bukan faktor satu-satunya. Banyak perlakukan petugas yang tidak disukai para napi. Mulai dari proses penangkapan, penahanan, sampai pengadilan.
“Mestinya tangkap saja baik-baik,” kata Michdan
Belum lagi perlakuan yang diterima oleh keluarga napi. Misalnya untuk menjenguk, istri para napi tersebut harus membuka baju terlebih dahulu sebagai bagian dari proses pemeriksaan. Meskipun yang melakukan proses ini sesama wanita (Polwan). Hal ini tetap saja menimbulkan kemarahan saat sang istri bercerita pada suaminya.
“Secara islam, itu sangat melanggar privasi,” kata Michdan.
Selain itu, Michdan menyebut, banyak dari napi yang statusnya masih dalam proses penuntutan perkara, namun mereka tidak mendapatkan haknya untuk didampingi tim kuasa hukum secara memadai.(nas/tau/jpg/ary)