Afghanistan Siapkan Pemilu di Tengah Perang


AFGHANISTAN - Di tengah suasana perang, Afganistan mulai mendaftar para calon pemilih untuk pemilu legislatif. Otoritas setempat berharap dapat mendaftar 14 juta penduduknya di lebih dari tujuh ribu pusat pemungutan suara.
Targetnya, itu akan selesai dalam dua bulan mendatang. Mengutip AFP, itu dapat dikatakan sebagai tujuan yang ambisius, terutama dengan adanya kelompok militan yang mengontrol sebagian besar wilayah. Namun itu harus dilakukan demi memenuhi kekosongan legislatif dan mencapai pemilu yang kredibel serta bebas kecurangan. "Tantangan utamanya adalah rasa tidak aman, khususnya di area pedesaan," ujar Abdul Badie Sayad, direktur Komisi Pemilihan Independen pada AFP.
Abdul memprediksi kelompok-kelompok militan seperti Taliban dan ISIS tidak akan tinggal diam. "Kekuatan lokal, militan ilegal dan orang-orang kuat akan mencoba mengganggu," tambahnya.
Selain masalah keamanan, masalah partisipasi kaum hawa juga jadi kekurangan dalam pemilu di Afghanistan, terlebih di daerah pedesaan. Menurut Abdul, perempuan bisa saja dilarang keluarganya untuk berpartisipasi.
"Perempuan tidak akan diberi izin oleh keluarganya untuk ke pusat pendaftaran di mana mereka mungkin diminta untuk membuka burkha untuk menunjukkan wajah mereka," jelas Abdul.
Sementara itu pada Sabtu (14/4) petugas kepolisian berjaga di sebuah sekolah di Kabul yang dijadikan tempat pendaftaran. Namun hanya segelintir pria yang datang untuk mendaftar.
Mohammad Hussein, salah satunya, mengaku ingin berpartisipasi dalam pemilu.
"Saya memberikan suara pada 2010 tapi saya membuat kesalahan, anggota parlemen tak membawa perubahan. Sekarang saya perlu memberikan suara pada seseorang yang mau bekerja tanpa perlu sogokan," ujar pria yang berprofesi sebagai penjaga toko itu.
Semula pemilu di Afghanistan rencananya digelar pada 2015, setelah pemilihan presiden di tahun sebelumnya. Namun rencana ini urung dilakukan karena situasi yang tak aman dan masalah logistik pemerintah.
Tahun ini rencananya pemilu akan digelar 20 Oktober mendatang. Jika itu terselenggara, kandidat akan memperebutkan 249 kursi di Majelis Nasional untuk lima tahun ke depan.
Untuk itu, belasan juta orang butuh didaftarkan. Iklan Iklan televisi pun gencar berkampanye agar penduduk mau berpartisipasi dalam pemilu."Kami berusaha keras untuk meningkatkan rasa percaya diri publik untuk meningkatkan legitimasi pemilu," tutur Sayad. (dtc/det/udi)

Berita Lainnya :

loading...