Bos First Travel Punya Utang Rp104 Miliar


JAKARTA - Polisi sudah menetapkan Komisaris PT First Anugerah Karya Wisata (First Travel) Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki Hasibuan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan dana umrah puluhan ribu pengguna jasa perusahaan tersebut.
"Iya, sudah ditahan," kata Kepala Unit V Sub Direktorat V Direktorat Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal Polri AKBP M. Rivai Arvan, mengonfirmasi informasi mengenai penetapan Kiki Hasibuan sebagai tersangka, Jumat (18/8).
Ia menjelaskan bahwa Kiki, yang merupakan adik tersangka Anniesa Desvitasari Hasibuan, ikut membantu pidana penipuan yang dilakukan Anniesa dan suami Anniesa yang bernama Andika Surachman. Beberapa aset milik Andika dan Anniesa juga diketahui dibeli atas nama Kiki. "Banyak, ada rumah, ada mobil seperti Fortuner yang disita atas nama Kiki. Ini masih ditelusuri," kata Rivai.
Polisi menetapkan Kiki sebagai tersangka setelah memeriksanya sebagai saksi bersama saudaranya yang bernama Ivan pada Rabu (16/8).
Menurut Direktur Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal Polri Brigdir Jenderal Herry Rudolf Nahk mengatakan, bos perusahaan penyelenggara umrah PT First Anugerah Karya Wisata (First Travel), Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari Hasibuan memiliki utang sekitar Rp104 miliar. Satu di antaranya, kata Herry, Andika dan Anniesa menjaminkan rumah, mobil, dan kantor untuk memperoleh pinjaman sebesar Rp80 miliar. "Dan, sejumlah [utang kepada] hotel di Kota Mekkah dan Madinah berkisar Rp24 miliar," kata Herry.
Lebih dari itu, Herry mengatakan penyidik belum menemukan bukti dugaan aliran uang yang diinvestasikan Andika dan Anniesa ke koperasi simpan pinjam Pandawa Group milik Nuryanto, hingga saat ini. Sebelumnya, sempat muncul kabar terdapat aliran dana ke tersangka kasus investasi bodong Pandawa.
Jenderal polisi bintang satu itu hanya mengatakan, penyidik tengah mengecek nominal saldo dalam 47 buku tabungan yang telah disita dari rumah mewah Andika dan Anniesa di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Selasa (15/8) malam. ‘’Kalau [aliran dana investasi ke] Pandawa belum kami temukan," kata Herry.
Polisi memperkirakan First Travel meraup keuntungan mencapai Rp550 miliar dari dugaan tindak pidana penipuan yang dilakukan pada sekitar 35 ribu jemaah yang telah melunasi pembayaran perjalanan ibadah umrah lewat jasa agen sejak 2015.
Selain memiliki utang hingga Rp 24 miliar kepada beberapa hotel di Arab Saudi, pasangan suami istri Andika Surrachman dan Anniesa Desvitasari Hasibuan yang merupakan bos PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel diduga juga punya utang dengan seseorang  yang nominalnya tak kalah besar pula.
Pasutri itu disebut memiliki utang puluhan miliar rupiah. "Ada utang lagi Rp 80 miliar sama orang," kata Brigadir Jenderal Polisi Herry Rudolf Nahak.
Harry melanjutkan, pasutri itu pun menjaminkan beberapa aset seperti rumah mewah, beberapa kendaraan, dan kantor First Travel. "Jaminkan ke orang karena punya utang," kata dia.
Sebelumnya diberitakan, Direktur Tindak Pidana umum Mabes Polri Brigadir Jenderal Polisi Herry Rudolf Nahak menyebut ada sejumlah pihak hotel di Mekkah dan Madinah, yang melapor adanya utang perusahaan PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel.
First travel disebut memiliki utang perusahaan dengan jumlah hingga mencapai Rp.24 miliar banyaknya. "Ada Hotel di Mekah dan Madinah, itu melapor. Ada beberapa hotel menyampaikan, ada utang penginapan di sana yang belum dibayar, kurang lebih Rp 24 miliar, sejak 2015 sampai 2017," ungkapnya.
Terhadap perbuatan tersebut, Andika dan Anniesa dijerat dengan Pasal 55 juncto Pasal 378 dan Pasal 372 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), serta Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).  Selain itu, penyidik juga telah menggandeng Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri aset milik bos First Travel. Langkah ini dilakukan menyusul temuan total sisa saldo dari sejumlah rekening First Travel yang telah diblokir oleh penyidik hanya sebanyak Rp1,3 juta. (cnn/dtc/ra/udi)

Berita Lainnya :