BPN Prabowo Adukan 6 Lembaga ke KPU

Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar
 
Kalah di Quick Count
JAKARTA- Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno melaporkan sejumlah lembaga survei yang menyelenggarakan quick count atau hitung cepat Pilpres 2019 ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). BPN Prabowo-Sandi melaporkan enam lembaga itu sebagai respons hasil quick count yang sementara ini memenangkan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. 
Tim Advokasi dan Hukum Direktorat Advokasi dan Hukum BPN Prabowo-Sandi, Djamaluddin Koedoeboen, menyampaikan pihaknya melaporkan enam lembaga survei itu karena menyiarkan hasil quick count yang menyesatkan. 
"Dalam rangka melaporkan berapa rekan-rekan atau lembaga survei yang selama ini atau beberapa kurun waktu, berapa hari ini menyiarkan berita-berita yang tidak benar, hoaks, dan bahkan menyesatkan," kata Djamaluddin di Kantor KPU, Jakarta, Kamis (18/4).
BPN melaporkan LSI Denny JA, Indo Barometer, Charta Politika, SMRC, Poltracking, dan VoxPol ke KPU karena dinilai menyiarkan quick count yang berpihak pada Jokowi-Ma'ruf. Djamaluddin menyebut enam lembaga survei itu sudah memenangkan Jokowi-Ma'ruf. Padahal KPU belum merilis hasil resmi. "Maka kami minta secara tegas KPU untuk mencabut kembali segala izin-izin yang diberikan kepada mereka," ujarnya.
Ditemui terpisah, Ketua KPU Arief Budiman menegaskan pihaknya bukan lembaga yang menaungi para lembaga survei. Para lembaga survei terdaftar sebagai penyiar quick count sebagai syarat UU Pemilu.
KPU hanya melakukan pengecekan kelengkapan dokumen yang jadi syarat dalam UU Pemilu, bukan menjamin kredibilitas lembaga survey. "Kalau ada pelanggaran, nanti dilaporkan ke asosiasianya. Sama seperti kalau mediamu nakal, boleh KPU langsung menutup? Kan enggak," kata Arief di Kantor KPU, Jakarta, Kamis (18/4).
Dari hasil hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga survei Jokowi-Ma'ruf secara umum mendapat suara pada kisaran 54-55 persen. Sementara Prabowo-Sandi berada di kisaran angka 44-45 persen. Merespons quick count itu, Jokowi-Ma'ruf hanya tersenyum tipis dan meminta semuanya bersabar menunggu hasil real count dari KPU pada 22 Mei mendatang.
Sedangkan Prabowo sebaliknya menyatakan untuk tidak percaya dengan quick count yang menyebut lawannya unggul sementara. Prabowo bahkan menyatakan dirinya menang berdasarkan real count pihaknya dengan angka 62 persen.
Terpisah,Peneliti LSI Denny JA, Rully Akbar, tak menanggapi serius pelaporan itu karena yakin lembaganya dapat membuktikan hasil quick count secara ilmiah. "Satu sisi, kita nggak pernah ada masalah dengan itu karena kita bisa meyakini metodologi ilmiah ini tidak baru dilakukan pertama kali, bahwa lembaga-lembaga besar, seperti LSI dan SMRC, kan bukan lembaga baru," ujarnya di kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta Timur, kemarin.
Rully yakin hasil quick count yang dikeluarkan lembaganya tak berbeda jauh dengan hasil rekapitulasi dari KPU. Lantas, ia menepis tuduhan penggiringan opini. "Ketika mereka melakukan pelaporan dan semacamnya dengan tudingan melakukan pembohongan publik, nanti silakan dikonfirmasi ketika hitung rekapitulasi pleno KPU. Ketika ini berbeda jauh dengan rekapitulasi KPU, baru mereka bisa katakan bahwa lembaga ini menggiring opini publik dengan pembohongan publik," katanya. (cnn/dtc/udi)

Berita Terkait

Berita Lainnya :