Dikepung 865 Personel, Napiter Menyerah

 
DEPOK - Kapolri Jenderal Tito Karnavian akhirnya buka suara soal Tragedi Mako Brimob, di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Tito langsung mengecek ke lokasi, Kamis (10/5) sore, usai mendarat dari Yordania. Ratusan narapidana teroris (Napiter) akhirnya menyerahkan diri lewat soft approach, bukan lewat penyerbuan.
“Saya baru terbang tadi siang, sampai sore tadi. Saya dapat informasi ini Selasa malam, langsung koordinasi dengan Kadensus 88 Dankorbrimob dan Wadankorbrimob yang ada di TKP,” kata Tito di Mako Brimob. 
Tito mengaku memantau perkembangan per menit dan per jam melalui Wakapolri Komjen Syafruddin. Dia juga menunjuk Wakapolri sebagai pemimpin operasi selama dia berada di luar negeri. 
Mantan Kadensus 88 Antiteror ini mengaku menyesali lima anak buahnya yang gugur dalam insiden ini. Untuk itu dia meminta agar seluruh jajaran fokus untuk membebaskan satu sandera tersisa yakni Bripka Iwan. Tito memerintahkan ratusan personel mengepung 155 narapidana teroris.
“Di dalam ada 155 dan satu bayi juga dan satu sandera, maka saya minta dikepung oleh 856 orang personel,” urai dia. 
Tito juga tak lupa menginformasikan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang insiden ini. Kemudian dari Jokowi, Tito mendapat perintah untuk menindak tegas. “Instruksi beliau tindak tegas, tak boleh kalah,” ujar Tito. 
Diketahui, kerusuhan di Mako Brimob ini sudah berhasil dikendalilan. 155 napiter yang sempat melawan petugas menyerah tanpa syarat pada pagi tadi. 
Akibat insiden ini sedikitnya enam orang meninggal dunia. Lima anggota kepolisian dan satu dari napiter. 
Wakapolri Komjen Syafruddin membantah ada negosiasi dengan narapidana teroris di Rutan Mako Brimob Kepala Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis (10/5) pagi. Menurut dia, seluruh teroris menyerah setelah ada operasi khusus terhadap sisa teroris yang memberontak. 
“Operasi ini dengan pendekatan soft approach bukan karena negosiasi tapi dengan pendekatan lunak oleh Polri,” kata dia di Mako Brimob Kepala Dua, Kamis. 
Menurut dia, seluruh teroris yang sempat memberontak akhirnya menyerahkan diri karena kesabaran dari petugas menanti. Polri kata dia juga ikhlas, meski ada sembilan korban dari Polri dan lima di antaranya meninggal dunia. 
Sebelumnya Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Mohammad Iqbal menyebutkan, Polri mengupayakan negosiasi dengan mengirimkan sejumlah negosiator agar bisa membebaskan satu sandera yakni Bripka Iwan Sarjana. 
Negosiasi berlangsung alot mulai dari Rabu hingga Kamis dini hari. Namun pada pagi menjelang fajar, para teroris akhirnya menyerah tanpa syarat. Sementara itu, Komandan Korp Brimob (Dankorbrimob) Irjen Rudy Sufahriadi menerangkan, sekitar seratus narapidana teroris (napiter) yang memberontak di Mako Brimob, sempat mempersenjatai diri. 
Menurut dia, senjata laras panjang, pendek hingga bom rakitan didapat dari gudang barang bukti. Rudy menjelaskan, untuk bom, aparat meledakkannya ketika operasi penyerbuan. 
“Saya melakukan penindakan soal ledakan itu, menjatuhkan tembok karena patut diduga mereka menyimpan bom yang didapat dari barang bukti yang kemarin disita,” kata dia di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Kamis (10/5). 
Namun bom yang disediakan untuk menjebak petugas itu sudah diledakkan semua sehingga tak ada lagi bom yang tersisa. Mantan Kapolda Sulawesi Tengah ini menambahkan, ledakan itu berlangsung tertutup dan aman sehingga tak melukai tahanan serta anggota. 
Pria yang pernah memimpin jalannya Operasi Tinombala ini juga memastikan bakal memproses hukum para narapidana teroris yang memberontak dan membunuh anggota Polri. 
“Indonesia negara hukum semua berujung ke penegakan hukum. Semua pemberatan dan peringanan ujungnya di pengadilan,” tandas dia.(mg1/jpg/ary)