Polisi Tetapkan Dirut PT IBU Sebagai Tersangka

 
JAKARTA - Penyidik Bareskrim Polri menjerat Dirut PT Indo Beras Unggul (IBU) berinisial TW dengan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU). Penyidikan akan diawali dengan penghitungan keuntungan PT IBU produsen beras merek Maknyuss dan Ayam Jago. "TW penanggung jawab (perusahaan) sesuai UU 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Nah ditanya nanti dia, tugas tanggung jawabnya. Nanti lalu dicari berapa keuntungannya," ujar Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul kepada wartawan, Rabu (2/8/2017).
Penyidik pada Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus akan menelusuri dugaan pencucian uang hasil keuntungan yang dilakukan TW yang diduga berasal dari tindak pidana. "Kalau tindak pidana kejahatan yang kemudian menguntungkan ya harus ditelusuri lah hasil kejahatannya," tambahnya.
Dalam kasus ini polisi sudah memeriksa 24 orang saksi dari manajemen, supplier, pihak terkait produksi, distribusi dan penjualan. Polisi juga memeriksa 11 orang ahli yang sudah menguji beras secara laboratorium. "Tersangka hari ini mulai ditahan di rutan Bareskrim Polri di Polda Metro," ujar Martinus. 
Ada 3 sangkaan pidana yang diduga dilakukan terkait PT IBU. Pertama, Beras merek Maknyuss dan Ayam Jago produksi PT IBU mencantumkan AKG dalam label kemasan. Padahal AKG hanya dicantumkan pada makanan olahan . 
Pencantuman AKG dalam kemasan pangan olahan menurut Martinus menjadi acuan bagi para konsumen. Namun AKG yang terdiri dari energi, protein, lemak, karbohidrat ditegaskan Martinus hanya untuk produk olahan. Kedua, PT IBU diduga memperdagangkan beras Maknyuss dan Ayam Jago dengan mutu yang tidak sesuai hasil uji laboratorium. Ketiga, beras Maknyuss dan Ayam Jago menggunakan sertifikat SNI PT Sukses Abadi Karya Inti (Sakti). 
"Kemasan yang ada seharusnya sesuai dengan di mana (produk) itu diproduksi, (tapi) ternyata nggak. PT Sakti ternyata diproduksi PT IBU. Ini menyulitkan pengawasan stakeholder terkait berapa jumlah produksi dan berapa yang didistribusi," paparnya.
Atas dugaan pidana ini, TW disangkakan dengan pasal berlapis yakni Pasal 144 jo Pasal 100 (2) UU Nomor 18/2012 tentang Pangan, Pasal 62 jo Pasal 8 ayat 1 huruf e,f,i dan atau Pasal 9 h UU Nomor 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, Pasal 3 UU Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan Pasal 382 KUHP. 
Terpisah, hingga kemarin, TW masih menduduki jabatannya sebagai dirut dan tak diberhentikan.  "Tidak (diberhentikan), lagi pula masalah ini kan masih dalam proses kepolisian," ujar juru bicara PT IBU Louisa Tuhatu, Rabu (2/8/2017). 
Selain itu, TW tidak dinonaktifkan dari jabatannya. "Tidak (dinonaktifkan)," ucapnya. 
Louisa juga menyatakan pihak perusahaan akan memberikan pendampingan hukum kepada TW.  "Kami sejak awal masalah ini masuk ke proses hukum, selalu memberi pendampingan hukum," tutur Louisa. 
Hanya, Louisa belum memberi tanggapan mengenai sangkaan polisi kepada TW. Antara lain dugaan melakukan kecurangan dalam pencantuman Acuan Kecukupan Gizi (AKG) dan Standar Nasional Indonesia (SNI) serta dugaan memperdagangkan beras Maknyuss dan Ayam Jago dengan mutu yang tidak sesuai dengan hasil uji laboratorium. Mutu asli beras tidak sesuai dengan kualitas mutu sebagaimana SNI yang tercantum dalam kemasan. 
Selain itu, dugaan pelanggaran ketiga terkait dengan aturan kemasan. Beras Maknyuss dan Ayam Jago tidak memiliki sertifikat SNI, melainkan hanya menggunakan sertifikat SNI PT Sukses Abadi Karya Inti (Sakti).  (cnn/dtc/udi)
 

Berita Lainnya :