Polisi yang Disandera Baru Nikah Sebulan


 
JAKARTA – Ngeri. Tahanan teroris menyerang Mako Brimob, merebut senjata api, menewaskan lima anggota polisi dan satu tahanan, namun hingga kini jalan negosiasi belum menemui titik temu damai. Nasib Bripa Iwan Sarjana yang disandera juga belum diketahui. Rekaman suara yang diduga merupakan suara Bripka Iwan beredar luas kemarin, termasuk live instagram terduga pelaku penyerangan. Dalam rekaman suara tersebut, Bripka Iwan menyebutkan alamat rumah serta nama istrinya. 
"Nama Iwan Sarjana. Saya punya istri namanya Sherlin, alamatnya sama di situ. Saya belum punya anak saya baru nikah sebulan," ungkap Iwan.
"Ini jujur ya?" ujar suara yang diduga seorang napi.
"Jujur, boleh dicari nanti ketemu saya. Saya udah sakaratul maut," jawab Iwan.
Lalu Iwan membaca istighfar dan tahlil. Indopos (Malang Post Group) menelusuri alamat yang disebut Iwan dalam rekaman.Menurut penuturan dari tetangga Iwan yang enggan disebutkan namanya, Iwan dikabarkan telah meninggal pada Rabu (9/5), pukul 13.00 wib. Keluarganya pun sudah datang menjenguk. Namun saat menelusuri kabar tersebut melalui kerabat Iwan yang juga anggota Brimob, menurut dia, informasi meninggalnya Iwan masih simpang siur. Namun ia membenarkan bahwa Iwan awalnya disandera.
"Meninggalnya (Iwan) masih simpang siur," ungkap kerabat Iwan yang enggan disebutkan namanya itu. Sedangkan rumah Iwan nampak sepi. Kabarnya sang istri, Sherlyn telah meninggalkan rumah untuk mendatangi Mako Brimob.
Sementara itu, jalan damai negosiasi penyanderaan tahanan kasus terorisme masih panjang. Polri yang berupaya sekuat tenaga menempuh jalur damai belum mendapatkan respon positif dari ratusan tahanan yang secara keji menewaskan lima anggota Polri. 
Tuntutan paling utama berupa bertemu dengan Oman Abdurrahman sudah dipenuhi. Namun, setelahnya mereka tak kunjung menerima negosiasi. Potensi negosiasi makin kecil saat Polri memastikan ada sejumlah senjata beserta amunisi yang mereka rampas.
Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menuturkan, pertemuan antara para tahanan dengan Oman dilakukan Selasa lalu (8/5). Hasilnya, hingga saat ini belum diketahui, namun tim negosiasi Polri masih terus bekerja. "Oman kan pemimpin mereka. Tidak jelas kelanjutan permintaan mereka," terangnya ditemui di Media Center Kantor Polisi Satwa, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. 
Tim negosiasi yang berjumlah antara tiga hingga empat orang tidak bisa disebut identitasnya. Mereka berupaya untuk merayu para tahanan untuk mau menempuh jalan damai. "Soal langkah negosiasinya tidak bisa dipublikasikan," ungkapnya. Saat ditanya apakah tim negosiasi membawa keluarga tahanan untuk bertemu juga tidak dijawab. 
Dalam negosiasi ini Polri tidak memiliki batas waktu, hingga kapan proses negosiasi dianggap tidak lagi bisa menjadi solusi. Setyo menuturkan, tidak adanya batas waktu bukan berarti lama. Namun, Polri justru ingin secepatnya menyelesaikan insiden ini. "Itu yang kami mau," tuturnya. 
 
Insiden Berdarah karena Makanan 
Insiden berdarah penyanderaan ini dipicu oleh makanan yang dibawa keluarga untuk tahanan dalam pemeriksaan. Karena makanan belum bisa diberikan, terjadi provokasi.
"Awalnya sepele soal makanan, kan perlu diperiksa prosedur ya," jelasnya. 
Setelahnya, para tahanan itu melakukan pembobolan sel tahanan. Mereka merangsek ke ruang pemeriksaan. Dimana saat itu sejumlah penyidik sedang memeriksa tahanan yang baru datang.
"Memang ada penghuni baru diperiksa," ujarnya. 
Saat itulah bentrokan terjadi, tahanan tersebut merampas sejumlah senjata api. Laras panjang dan pendek, yang jumlahnya Polri belum pastikan.
"Memang ada senjata yang dikuasai tahanan, belum diketahui jenis dan jumlahnya," urainya.