Tanwir Muhammadiyah, Canda Haedar Nashir tentang 'Jari-Jari' Politik


BENGKULU - Presiden Joko Widodo tiba di Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu, Jumat (15/2), untuk membuka Tanwir Muhammadiyah ke-51. Jokowi hadir bersama sejumlah menteri Kabinet Kerja, seperti Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dan Kepala Staf Presiden Moeldoko.
Jokowi tiba sekitar pukul 08.45 WIB dan langsung meluncur menuju lokasi acara. Selain pembukaan Tanwir Muhammadiyah, Jokowi juga diagendakan salat jumat sekaligus membagikan sertifikat wakaf.
Tanwir Muhammadiyah dengan bertema 'Beragama yang Mencerahkan' ini merupakan Tanwir terakhir sebelum Muktamar 2020. Tanwir akan membahas agenda yang bersifat keorganisasian. Dalam sidang Tanwir kali ini akan membahas empat hal yang berkaitan dengan Muktamar Muhammadiyah tahun 2020. Di antaranya, pengesahan tata tertib Muktamar, pengesahan tata tertib pemilihan pimpinan, pengesahan panitia pemilihan, dan penetapan serta penyampaian jadwal Muktamar.
Sekretaris PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti menjelaskan, dalam Tanwir juga akan dibahas perubahan anggaran rumah tangga karena mendesak harus dilakukan perubahan. Selain itu akan ada laporan tingkat wilayah, pusat dan organisasi otonom. Kemudian yang ketiga, Mu'ti menyampaikan, Tanwir akan membahas dan menyampaikan ceramah serta pokok pikiran Muhammadiyah. Pada Tanwir di Ambon 2017 lalu, Muhammadiyah menghasilkan Resolusi Ambon dan menyampaikan pentingnya mengatasi kesenjangan sosial.
Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berpesan kepada seluruh peserta agar mengikuti acara ini secara saksama, tetapi juga dengan suasana hati gembira. Sebagai contoh, dia menyarankan para peserta mengamalkan salah satu anjuran Rasulullah SAW, yakni tersenyum. Dalam suatu hadits riwayat Tirmidzi disebutkan, senyum seorang Muslim di depan saudara seiman merupakan sedekah.
"Bersidanglah dengan tersenyum, sebagaimana saat ini sedang dipraktikkan oleh anggota PP Muhammadiyah untuk belajar tersenyum 20 kali per 20 detik, sehingga selama tiga hari Tanwir dapat tersenyum sebanyak 60 kali berdurasi 1.200 detik atau setara 20 menit," tutur Haedar Nashir di hadapan hadirin di Bengkulu, kemarin.
Berpidato di atas podium, Haedar tidak memungkiri tahun ini disebut tahun politik. Sebab, pemilihan presiden dan wakil presiden akan dihelat pada 2019. Dia pun meminta masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah, untuk tidak terlalu tegang dalam menghadapi pesta demokrasi.
Haedar lantas menyampaikan pantun yang menyinggung para peserta Tanwir terkait berfoto-foto sambil mengacungkan satu atau dua jari. "Tidak perlu sambil mengangkat jari tangan satu atau dua. Kasihanilah nasib sembilan atau delapan jari lainnya yang sama-sama ciptaan Tuhan,” kata Haedar, yang langsung disambut gelak tawa hadirin, termasuk di antaranya Presiden Jokowi.
Muhammadiyah sendiri mengambil sikap untuk tidak berpolitik praktis, sebagaimana khitahnya sejak pertama kali berdiri pada 1912 silam. (rep/det/udi)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :