Cari Bibit Pesepakbola, BLiSPI Gelar Kompetisi


MALANG – Tim pelajar tingkat SD/MI se Malang Raya unjuk gigi dalam kompetisi di Stadion UMM, untuk berebut tiket mewakili Malang ke tingkat Provinsi, Sabtu (16/2). Mereka juga memperebutkan kesempatan untuk mengikuti training camp di China pada pertengahan tahun ini.
“Banyak pelajar tingkat SD/MI yang belum mengikuti Sekolah Sepak Bola (SSB), jadi bakat mereka belum diketahui. Di situlah tujuan utama digelarnya kompetisi seperti ini,” ungkap Ketua BLiSPI Jawa Timur Haris Thofly, kepada Malang Post.
Pemenang dari kompetisi ini akan mewakili Malang ke tingkat Provinsi. Karena hanya terdapat tiga titik seleksi untuk mewakili Provinsi Jawa Timur, nantinya wakil dari Malang akan bertanding dengan Sidoarjo dan Surabaya.
Ketujuh sekolah yang lolos babak selanjutnya adalah SDN Pendem 1, SD Brawijaya Smart School, SDN Purwodadi 1, SDN Bandungrejo 1, SDN Panggung Rejo, SD Sabilillah A, SD Sabilillah B. Untuk tim kedelapan masih ditentukan pagi ini.
“Kegiatan kompetisi semacam ini perlu dilakukan sesering mungkin, agar para pemain berbakat akan merima talent scouting sedini mungkin,” tekannya.
Selain itu, pihaknya juga memantau pemain-pemain yang memiliki bakat untuk dibina. “Pemain perempuan dari SD Sabilillah sempat kami panggil secara khusus namanya Athira, karena melihat bakatnya yang sangat bagus. Nanti rencananya akan dilakukan talent scouting,” ungkap pria yang juga menjabat Ketua PSSI Kota Malang ini.
Menurut Haris, bakat pemain sepak bola perempuan sudah seharusnya diapresiasi dan diwadahi. Saat ini pun tidak hanya PON yang sudah menggelar kompetisi sepak bola perempuan, ada juga kompetisi futsal tingkat Provinsi. Jika masuk jadi pemenang, mereka juga berpeluang untuk ikut serta dalam training camp di China pada Mei mendatang.
Ketika ditanya bagaimana program untuk para pemain sepak bola perempuan ke depannya, ia menjawab agar harus segera dikembangkan. Karena sekarang pemain sepak bola perempuan harus terus didukung.
“Sebenarnya untuk pemain perempuan itu tergantung pada SSB, karena mereka yang melatih. Tapi menurut saya ke depannya perlu adanya pelatihan wadah pemain sepak bola perempuan secara khusus” terang pria yang juga Dosen Fakultas Hukum UMM tersebut.(mg3/jon)

Berita Terkait