Debat Publik yang Timpang !


MALANG – Debat publik itu menegangkan. Harus adu argumen dan pandangan di hadapan banyak orang. Apalagi bila mengikuti debat sendirian, tanpa pasangan. Hal itu sepertinya yang memengaruhi performa dua Calon Wakil Wali Kota Syamsul Mahmud dan  Ahmad Wanedi.
”Secara umum debat publik ini jelas tidak imbang, calon nomor satu dan dua hanya dihadiri oleh calon wakilnya saja. Sementara dalam debat pertanyaan yang diberikan itu banyak ditujukan kepada leader atau calon wali kota yang lebih menguasai dan menjadi pemilik visi dan misi,’’  kata Psikolog Sayekti Pribadiningtyas S.Psi.N.Pd.  
Nining –panggilan akrabnya- menyebutkan, dua calon wakil wali kota ini terlihat tidak nyaman dalam menghadapi debat. Ketidaksiapan juga tampak dari cara mereka memberikan jawaban dan gestur tubuh yang ditunjukkan. Terlebih, Syamsul Mahmud. Menurut perempuan yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Psikologi Malang ini, rasa ketidak percayaan dirinya terlihat sejak awal dia tampil.
”Mulai awal naik panggung, mengenalkan diri, intonasi katanya jelas terdengar ada tekanan. Kata yang terbata-bata merupakan salah satu hal yang menujukkan dia tidak nyaman,’’ katanya. Hingga akhirnya, Syamsul salah menyapa pasangan lainnya. Ia menyapa pasangan nomor tiga (Sutiaji-Edi) dengan menyebut mereka “pasangan nomor dua”, padahal itu adalah nomor urutnya sendiri.
”Ini juga menjadi petunjuk bahwa adanya kurang fokus pada pak Syamsul saat mengikuti  debat,’’ ucapnya.
Jawaban-jawaban yang diberikan Syamsul pun terlihat kurang tepat. Itu karena Syamsul menurut Sayekti kurang menguasai materi debat. ”Bukan tak memahami, tapi kurang sempurna. Dan sekali lagi, materi yang diberikan saat debat itu harusnya dijawab oleh calon wali kota, bukan oleh wakil,’’ ungkap perempuan  energik ini.
Sementara Wanedi, dikatakan Sayekti awalnya lebih oke dibandingkan Syamsul. Alias lebih percaya diri. Namun kondisi itu tak berjalan lama. Rasa gugup dan tertekan juga terlihat dari raut wajah Wanedi. Kepercayaan dirinya sedikit terkikis seiring munculnya pertanyaan-pertanyaan yang  harus dijawab.
Hal itu terlihat dimana Wanedi beberapa kali memegang bagian bawah kemejanya. ”Gestur itu salah satu petunjuk dia mengalami ketidak nyamananan dan kurang fokus,’’ katanya.
Ketidakfokusan itu juga ditunjukkan saat Wanedi duduk ketika presenter belum mempersilakannya untuk duduk. ”Ada lose control di sini. Pak Wanedi langsung duduk padahal presenter atau moderator belum memberikan kesempatan duduk. Kemudian dia kembali beridiri. Ini simbol, bahwa dia tidak nyaman, tegang dan lainnya,’’ ungkapnya.

Berita Lainnya :