Nahkoda Baru PDIP Surabaya, Awi Geser Whisnu


SURABAYA - DPP PDI Perjuangan membuat keputusan mengejutkan untuk Surabaya, Minggu (7/7). Pengurus pusat partai pemenang Pemilu ini menunjuk  Adi Sutarwijono alias Awi sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya dalam konfercab yang digelar serentak di Empire Palace.
Awi, sapaan akrab Adi Sutarwijono menggantikan Whisnu Sakti Buana,  Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya yang selama ini juga menjabat Wakil Wali Kota Surabaya. Sementara, untuk posisi Sekretaris diduduki oleh Taru Sasmita. Sedangkan Bendahara dijabat oleh Baktiono.
Keputusan ini dianggap mengejutkan, karena sebelumnya 31 PAC di Surabaya secara kompak kembali mengusulkan Whisnu Sakti Buana sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya melalui Rakercab.
Bahkan, Whisnu sempat memberi keterangan kala itu kalau Keputusan DPC juga menunjuknya sebagai kandidat calon Wali Kota Surabaya 2020. Namun, rekomendasi PAC ini sepertinya tidak digubris DPP PDI Perjuangan.
Saat putusan selesai dibacakan, Whisnu Sakti Buana dan Syaifuddin Zuhri langsung memberikan selamat kepada Adi Sutarwijono, Taru, dan Baktiono. Setelah itu Whisnu, Syaifuddin Zuhri dan rombongan yang lain meninggalkan tempat konfercab. "Selamat ya mas," kata Whisnu kepada Awi.
Sekadar diketahui, DPD PDI Perjuangan Jawa Timur menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) serentak untuk 38 DPC di seluruh  Jawa Timur pada Minggu (7/7). Konfercab ini dibagi tiga zona. Zona pertama di Surabaya, zona kedua di Kota Madiun, dan zona ketiga di Kota Malang.
Di Kota Surabaya, Konfercab dilaksanakan di Empire Palace Jalan Embong Malang untuk 14 DPC. Antara lain Sidoarjo, Pasuruan, Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Probolinggo, serta Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, dan Surabaya.
Dengan adanya perubahan nahkoda kepempinan ini, bagaimana arah politik DPC PDIP Kota Surabaya di Pilwali 2020?
Pakar komunikasi politik Unair Suko Widodo berpendapat jika pergantian nahkoda kepemimpinan merupakan hal yang biasa. “Itu lumrah. Regenerasi dan siklus kepemimpinan,” ujanya.
Menurut dia, semuanya sah-sah saja karena dilalui dengan proses musyawarah pula. Karena itulah menurut dia, pergantian nahkoda merupakan hal yang wajar. “Memang budaya di PDI Perjuangan kan untuk kepemimpinan selalu berasal dari keputusan pusat,” tambah Suko.
Terkait Pilwali Surabaya 2020,  ia berpandangan jika PDI Perjuangan sebagai partai besar tidak akan menutup mata pada peta politik di Surabaya. “Mereka pasti paham itu. Meskipun memang pada akhirnya rekomendasi akan selalu berasal dari pusat,” tegasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, PDI Perjuangan pasti akan melihat juga bagaimana kondisi di lapangan. “Rekomendasi terkait Pilkada biasanya berdasarkan itu. Siapa yang memiliki dukungan kuat sampai akar rumput lah yang biasanya mendapatkan rekomendasi,” pungkas Suko. (ss/bjt/van)

Berita Terkait