SBY Suguhi Prabowo Nasi Goreng Tek-tek

 
"Rame banget kayak pasar malem," katanya ketika menginjakkan kaki di kediaman SBY di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/7).
Ketika disinggung mengenai nasi goreng yang bakal disuguhkan SBY bagian dari diplomasi, Prabowo yang menggunakan batik cokelat itu menjawab singkat. "Ya diplomasi," guyonnya.
Prabowo mengatakan kepada awak media bahwa tujuan kedatangannya untuk bersilaturahmi dengan SBY. "Silaturahmi," pungkasnya.
Kedatangan Prabowo pun langsung disambut hangat sejumlah pengurus Partai Demokrat yang sejak tadi hadir di kediaman SBY. Candaan dan tawa terdengar dalam sambutan itu.
Prabowo pun langsung menghampiri SBY di ruang tamunya. Tak lama mereka keluar duduk di pendopo dan menyantap nasi goreng langganan SBY yang telah disediakan.
Diketahui, adapun yang mendampingi Prabowo yakni Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, Eddy Prabowo, dan beberapa pengurus lainnya.
Pertemuan antara Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menimbulkan spekulasi politik di publik. 
Pasalnya, tanggal pertemuan hari tepat pada peringatan peristiwa kerusuhan 27 Juli atau yang biasa disebut kudatuli.
Adapun peristiwa 27 Juli 1996 yakni, pengambilalihan secara paksa kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri. 
Penyerbuan dilakukan oleh massa pendukung Soerjadi, ketua umum versi Kongres PDI Medan serta dibantu oleh aparat dari kepolisian dan TNI.
Namun tampaknya politikus PDIP enggan mengkaitkan pertemuan SBY-Prabowo itu dengan peristiwa tersebut. Mereka pun tidak tersinggung akan hal itu.
“Tidak lah, agendanya kan tidak terkait 27 Juli," ujar Sekretaris Badan, Pendidikan dan Pelatihan Pusat DPP PDIP Eva Kusuma Sundari melalui pesan singkat, Kamis (27/7).
Mengenai pertemuan antara SBY-Prabowo kata dia menjadi hak mereka. Apalagi tahun ini memasuki tahun politik.
“Beberapa tokoh yang berkepentingan di kekuasaan saling ketemu untuk menyamakan frekuensi apalagi ada kesamaan kepentingan saat paripurna terkait UU Pemilu," sebut Eva.
Faktanya kata dia, penjajakan atau kolaborasi kekuatan dan strategi dilakukan semua parpol sebelum pemilu. "Yang istimewa di politik kawan bisa jadi lawan, dan sebaliknya," imbuhnya.
Eva juga berharap apa yang mendasari pertemuan dua tokoh politik itu demi bangasa dan negara. Karena, keduanya adalah sama-sama menyandang status negarawan. 
"Saya percaya kenegarawanan beliau berdua, juga sama dengan PDIP, yakni untuk memastikan tujuan serta kepentingan bangsa tercapai. Bukan untuk kepentingan subyektif partai-partai," pungkas Eva. (jpg/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :