Wanedi Berdoa, Nasdem Bendera Setengah Tiang


MALANG – Berbagai aksi kecaman terhadap pemboman di Surabaya dan Sidoarjo terus muncul di Kota Malang. Kemarin pagi, DPD Nasdem Kota Malang menggelar upacara bendera setengah tiang di depan halaman kantornya Jalan Simpang Sulfat Utara 15 Ruko Green Park Pandanwangi, sebagai simbol berkabung.
Upacara digelar untuk menyatakan rasa duka terhadap tragedi yang merenggut nyawa belasan orang akibat bom bunuh diri di gereja-gereja Surabaya. Ketua DPD Nasdem Kota Malang Hanan Abdul Djalil menyebut, kekerasan dengan latar belakang apapun tidak menjadi pembenaran untuk merenggut nyawa manusia.
“Kami menolak semua kekerasan dengan latar belakang apapun. Nasdem Kota Malang mengutuk keras aksi teror yang menyebabkan tragedi kemanusiaan di Surabaya,” kata Hanan. Menurutnya, upaya menyakiti dan merampas nyawa manusia dengan aksi kekerasan seperti bom bunuh diri adalah tindakan brutal dan keji.
“Terjadinya intoleransi, karena ada sebagian pemeluk agama yang berusaha menghakimi keyakinan orang lain lewat keyakinannya sendiri,” tambah Hanan.
Upacara bendera setengah tiang ini diikuti kader DPD, DPC, DPRt, Garda Pemuda hingga Garnita Malahayati dari Nasdem Kota Malang. Upacara dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pukul 10.00 WIB.
Semalam sebelumnya doa bersama untuk korban bom gereja di Surabaya digelar di berbagai sudut Kota Malang. Satu di antaranya, doa bersama Minggu malam, 13 Maret 2018 yang digelar di Jalan Sultan Agung, Klojen Kota Malang. Doa bersama tersebut diselingi pernyataan sikap untuk melawan radikalisme dan intoleransi yang terjadi di Indonesia.
“Kita tidak takut, radikalisme dan intoleransi musuh bersama. Pemboman itu teror terhadap bangsa ini, bahwa itu mengganggu ketertiban nasional. Mari bergandeng tangan, persatuan dan kesatuan kita, jangan hanya di mulut saja, mau ke mana Indonesia kalau sampai tercerai berai,” kata Achmad Wanedi, salah satu tokoh yang terlibat dalam doa bersama di Jalan Sultan Agung.
Pria yang juga cawawali paslon nomor 1 di Pilkada Kota Malang itu mengatakan kemajemukan adalah warisan bangsa yang menjadikan Indonesia kaya dan berbudaya. Menurutnya, kekayaan itulah yang membuat Indonesia mampu menjadi negara bhineka tunggal ika. Dengan adanya teror bom gereja di Surabaya, umat beragama di seluruh Indonesia harus semakin bersatu.
Dalam acara tersebut, doa lintas agama dinaikkan. Selain dari umat muslim yang mendoakan para korban bom dan keluarga yang ditinggalkan, umat kristen pun ikut menaikkan doa agar kedamaian turun kembali ke Indonesia. Doa untuk korban bom gereja Surabaya dihelat sekitar pukul 21.00 WIB.(fin/aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :