Lawan Vanuatu Pembuktian Simon McMenemy


JAKARTA - Laga Timnas Indonesia melawan Vanuatu menjadi debut Simon McMenemy dalam partai kandang sebagai pelatih Timnas Indonesia. Ini menjadi saat yang tepat untuk membuktikan diri di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Sabtu (15/6) malam WIB.
Pelatih asal Skotlandia sudah dua kali memimpin Skuad Garuda tampil pada ajang uji coba internasional. Dia membawa Indonesia meraih kemenangan 2-0 atas Myanmar, 25 Maret lalu. Namun, pada partai kedua, Indonesia dibantai 1-4 oleh Jordania, Selasa (11/6).
Simon menyebut laga nanti sebagai pembuktian hasil evaluasi usai anak asuhnya dibantai Jordania. Ada hal positif menurutnya yang ada dalam diri para pemain.
“Seperti yang kalian tahu, kami baru saja kembali dari perjalanan sulit, yakni Jordania. Banyak yang bisa dipelajari. Tapi, besok kami sangat positif,” ungkap McMenemy kepada wartawan di SUGBK, Jumat (14/6).
Apalagi, laga nanti adalah partai kandang perdana bagi McMenemy sebagai pelatih Timnas Indonesia. “Bagi saya pribadi, besok adalah pertandingan kandang pertama saya sebagai pelatih Indonesia. Dahulu saya pernah melakoni pertandingan kandang timnas bersama Filipina, tapi mereka tidak memiliki stadion sebesar ini. Jadi saya harap besok akan menjadi pertandingan yang bagus untuk saya,” kata McMenemy.
Simon McMenemy di lagan anti akan mengelaborasi lebih jauh soal pakem 3-4-3 yang diterapkannya. Menurutnya, formasi itu dipakai berdasarkan komposisi pemain yang ada.
Belakangan, sorotan tajam memang mengarah kepada Simon soal keputusannya menggunakan tiga bek. Pasalnya, selama ini Indonesia terbiasa dengan empat pemain belakang.
Simon sendiri sebenarnya memakai formasi 4-4-2 ketika menahkodai Bhayangkara FC dan berbuah juara Liga 1 2017. Dia bersuara soal perubahan pakem tersebut.
“Saat saya melatih Bhayangkara FC, di sana memakai 4-4-2 karena gelandang yang berlimpah tapi kurang pemain sayap. Sedangkan di timnas, kondisinya terbalik. Nah di situlah pelatih yang harus beradaptasi dengan pemain yang ada. Bukan malah sebaliknya,” ungkap Simon kepada wartawan.
Mantan pelatih timnas Filipina itu mengaku sempat menggunakan 4-4-2 untuk Indonesia ketika TC di Australia. “Lumayan berhasil, lalu kami coba 3-4-3. Hasilnya, pemain lebih menguasai permainan. Dari situ mungkin saya pikir ini adalah skema yang cocok,” sambung dia.
Simon melanjutkan, jika tetap menggunakan skema 4-4-2, sisi sayap tak akan mendapatkan kesempatan, seperti Riko Simanjuntak, Andik Vermansah, dan lainnya. Pemain tengah juga akan mendapat peran yang lebih besar.
Makanya, menurut Simon, saat ini skema 3-4-3 adalah skema yang paling pas karena jumlah pemain sayap yang ada lebih memadai.(jpc/jon)

Berita Terkait