Dukung Film, Bekraf Fasilitasi Akses Pendanaan


MALANG – Untuk mengangkat potensi industri kreatif, khususnya film, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) siap memberikan fasilitas akses pendanaan bagi para film maker. Melalui platform Akatara, para film maker akan dipertemukan dengan investor yang siap mendanai karyanya.
Pada forum sosialisasi Akatara yang diselenggarakan di Hotel Savana Malang, Rabu (2/5), Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo menerangkan, Akatara merupakan salah satu upaya kreatif yang dilakukan untuk mencari solusi terhadap pendanaan perfilman di Indonesia.
Lebih lanjut, Fadjar menjelaskan, Akatara merupakan platform pitching forum dan match making untuk proyek film Indonesia. Melalui forum tersebut, para film makers yang terpilih dipertemukan dengan investor untuk melakukan proyek yang telah mereka inisiasi. "Dengan adanya acara ini, kami berharap terjadi kesepakatan untuk pembuatan film, " kata dia.  
Fadjar merinci, pada tahun 2017, ada sepuluh dari 40 proyek film yang terpilih untuk mengikuti Akatara dan sudah mendapatkan pendanaan. Sehingga tahun ini, pihaknya berharap proyek film yang mendapatkan pendanaan lebih banyak lagi. "Tahun ini, Bekraf dan Badan Perfilman Indonesia (BPI) akan memilih 40 proyek film. Dari jumlah tersebut, ada 20 proyek film yang berkesempatan dipresentasikan secara langsung di hadapan investor," ungkap dia.
Pada sosialisasi yang dilakukan di Kota Malang kali ini, sebanyak 120 pembuat film, komunitas film, dan penggiat film dari Malang Raya turut berpartisipasi. "Pada sosialisasi ini, selain menjaring talenta film makers, mereka juga dibekali cara untuk membuat proposal yang komunikatif. Bekraf dan BPI memberikan pelatihan mempertajam ide proyek film pada proposal supaya menarik investor," papar Fadjar.
Selain Malang, kegiatan sosialisasi serupa juga digelar di sejumlah kota antara lain Makassar, Jakarta, dan Bandung. Puncak acara Akatara Indonesian Film Financing Forum akan digelar pada 18-20 September 2018 mendatang. "Film makers kategori animasi, dokumenter dan fiksi bisa mengirimkan proyek film untuk program Akatara 2018," jelas pria berkacamata ini.
Pada kesempatan tersebut, Fadjar menilai, Malang merupakan salah satu daerah yang cukup potensial untuk dunia industri kreatif film. Salah satu film dari Malang berjudul 'Satu Jiwa untuk Indoensia' berhasil mendapatkan pembiayaan dari program Akatara di tahun 2017.
"Ada bebedapa daerah yang kondisi perfilmannya cukup bagus selain Jakarta  dan Bandung, yakni Jogjakarta, Malang, Medan, Makassar, Purbalingga, serta Singkawang. Film daerah itu hidup, apalagi rutin membuat film berbahasa daerah,” kata dia.
Fadjar menambahkan, meski porsi film di industri kreatif tidak sebesar subsektor kuliner dan fashion, namun film merupakan subsektor ekonomi kreatif yang pertumbuhannya tertinggi. Untuk itu, Bekraf terus berinovasi agar industri kreatif perfilman semakin berkembang.
"Industri perfilman berkembang, terbukti dari jumlah penonton film nasional sebanyak 16 juta di tahun 2015. Kemudian mengalami kenaikan signfikan di tahun 2017 dengan jumlah penonton mencapai 40 juta orang. Bahkan untuk tiga bulan pertama tahun 2018, jumlah penonton sudah hampir 15 juta," pungkas Fadjar.(tea/lim)

Berita Terkait