April Landai, Mei Bakal Naik


MALANG – Inflasi bulanan Kota Malang pada bulan April naik sebesar 0,2 persen dibandingkan pada bulan sebelumnya, dengan capaian angka sebesar 0,14 persen. Capaian ini lebih rendah dibandingkan dengan angka inflasi Jawa Timur pada bulan April, yaitu mencapai 0,18 persen. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistika (BPS) Kota Malang pada tahun-tahun sebelumnya, maka prediksi inflasi pada bulan Mei akan mengalami kenaikan dengan adanya bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.
Kepala BPS Kota Malang Drs. Mohammad Sarjan menyatakan, faktor-faktor yang mempengaruhi Inflasi pada tahun 2018 ini adalah dari sektor kesehatan (0,39 persen), bahan makanan (0,38 persen), makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,32 persen), sandang (0,29 persen), pendidikan, rekreasi dan olahraga (0,02 persen), perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,01 persen), dan transportasi, komunikasi dan jasa keuangan (-0,33 persen).
“Dalam tahun ini, inflasi Kota Malang relatif landai. Tetapi berdasarkan data-data yang dihimpun BPS Kota Malang pada tahun-tahun sebelumnya, maka kemungkinan besar Mei ini, menjelang lebaran akan naik,” ungkapnya ketika ditemui Malang Post, kemarin.
Hal yang membuat inflasi kota Malang landai ini, lanjut pria yang akrab dipanggil Sarjan ini menegaskan, adalah dari sektor transportasi ataupun harga tiket pesawat yang masih relatif rendah. Hal inilah yang menyebabkan rata-rata angka inflasi Kota Malang masih landai. Namun, kondisi akan menjadi berbeda ketika menjelang lebaran, ketika terjadi kenaikan harga tiket pesawat terbang.
“Inflasi berada di titik rendahnya, berdasarkan statistik, adalah pada awal tahun dan juga akhir tahun. Sedangkan momentum naiknya adalah pada saat menjelang bulan Ramadan dan lebaran, dan juga kenaikan kelas,” imbuhnya.
Selain itu, juga terdapat 10 komoditas utama penyumbang inflasi pada bulan April 2018. Sarjan memaparkan, 5 besar komoditas yang paling banyak menyumbang inflasi adalah bawang merah, yang mengalami kenaikan harga sebesar 20,67 persen, daging ayam ras sebesar 5,77 persen, cabai merah dengan 12,46 persen, bensin sebesar 0,96 persen, rokok kretek filter sebanyak 1,96 persen. Bawang putih, apel, cat tembok, kentang, dan emas perhiasan juga termasuk dalam komoditas penyumbang inflasi.
“Sedangkan karena berdasarkan keterangan dari Bulog, beras aman, maka beras adalah komoditas nomor satu penghambat inflasi, bersama angkutan udara, cabai rawit dan daging sapi,” paparnya.
Selain inflasi, BPS juga menjalankan program pada tahun 2018 yang diberi nama Potensi Desa 2018. Sarjan menambahkan, Podes ini merupakan salah satu program BPS yang digunakan untuk menghasilkan data potensi desa, kelurahan dan kecamatan, dalam ruang lingkup daerah, yaitu Kota Malang yang prosesnya sudah dimulai pada awal bulan Mei kemarin. “Untuk mengetahui hasil akhirnya, pada proses diseminasi pada Desember 2018 akan terlihat hasilnya, terutama untuk wilayah Malang Raya,” pungkasnya.(mg4/lim)

Berita Terkait