Sido Muncul Gencarkan Tren Konsumsi Obat Herbal


MALANG – Tren penggunaan obat herbal yang semakin tinggi membuat PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) terus mengembangkan dan menyempurnakan produk-produknya. Selain itu, Sido Muncul juga terus bergerilya untuk mensosialisasikan obat herbal kepada masyarakat melalui kegiatan seminar.
“Tren konsumsi obat herbal dari tahun ke tahun semakin meningkat. Masyarakat semakin percaya dengan produk herbal, khususnya Sido Muncul, karena kami tak sekadar menyajikan obat herbal tetapi juga sudah melakukan uji ilmiah untuk memastikan keamanan produk tersebut,” kata Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat di sela Seminar Herbal bertema Memanfaatkan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat yang digelar di Fakultas Kedokteran UB, Sabtu (5/5).
Tingginya minat masyarakat terhadap obat herbal dapat diukur dari pertumbuhan keuntungan Sido Muncul akhir tahun lalu yang mencapai 15 persen dari tahun sebelumnya. Capaian ini tidak hanya berdasarkan penjualan di dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Tercatat, ekspor yang dilakukan oleh Sido Muncul memberikan kontribusi sebanyak 3 persen dari total keuntungan.
Irwan melanjutkan, untuk pasar luar negeri sendiri, Sido Muncul tidak hanya merambah negara-negara Asia seperti Filipina, Myanmar dan Thailand, tetapi juga sudah ke Benua Afrika, yakni di Nigeria, Benua Australia, Amerika hingga Eropa.
Sementara itu, seminar herbal yang digelar Sido Muncul tersebut diharapkan bisa mendorong akademisi kedokteran untuk terus melakukan penelitian tanaman obat secara ilmiah. Tidak hanya bergantung kepada obat modern yang berbasis kimia. Selain itu pihaknya juga ingin dunia kedokteran mendapat wawasan mengenai industri jamu, penelitian yang dilakukan untuk mengembangkan produk, dan penggunaan jamu untuk pelayanan kesehatan.
“Terkait kerjasama antara FK UB dengan Sido Muncul ini kami berharap ke depan bisa semakin mengembangkan penelitian obat herbal mulai dari hulu hingga hilir. Hasil penelitian tidak hanya tersimpan di meja, tetapi bisa diwujudkan menjadi produk yang bermanfaat untuk masyarakat,” kata Dekan FK UB, Dr dr Sri Andarini M.Kes. (nda)

Berita Terkait