Berbisnis Ala Kaesang Pangarep, Alokasikan 80 Persen Modal untuk Promosi


MALANG – Sempat aktif sebagai youtuber sekaligus pernah bermain film, Kaesang Pangarep justru tertarik dengan dunia usaha. Sebab ia memang sudah penasaran bisa membuka usaha sendiri sejak SMA. Jatuh bangun dalam berbisnis, tak membuatnya kapok, bahkan semakin memperbanyak usahanya di berbagai bidang. Amati, tiru, dan modifikasi (ATM) menjadi kuncinya dalam membuka berbagai bidang usaha selama ini.
Hal itulah yang ia sampaikanh dalam talkshow “Menjadi Entrepreneur Muda” di Universitas Negeri Malang (UM), kemarin. Putra Presiden RI Joko Widodo ini pun banjir pertanyaan dari mahasiswa yang juga ingin menjadi entrepreneur.
“Jika modal saya hanya Rp 10 juta, bagaimana cara saya mengalokasikan modal tersebut untuk usaha,” tanya salah satu mahasiswa UM jurusan fisika, Said Maulana.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Kaesang mengatakan, modal bukanlah hal penting satu-satunya bagi pengusaha. Menurutnya, dengan modal sedikit jika benar-benar berkomitmen menjadi pengusaha, tentu akan berhasil. Selain ATM, Kaesang juga mengungkapkan bahwa dirinya mengalokasikan dana yang cukup besar untuk promosi.
“Rp 10 juta itu banyak, kalau saya akan membuka usaha mie ayam gerobak dengan uang Rp 5 juta dan sisanya digunakan endorse untuk promosi. Kita harus mencari seseorang yang kontroversial dan mampu mengangkat brand. Saya sendiri mengalokasikan hampir 80 persen modal untuk promosi dengan rumus ATM tadi," ungkapnya.
Kaesang mengawali bisnis dengan bekerjasama bersama beberapa brand untuk membuka berbagai usaha. Bahkan, ia sempat membuat game dan menjualnya selama dua tahun namun anya mendapat keuntungan Rp 5 juta. Padahal, Hompimpa games diproduksi untuk mengedukasi anak-anak. Dia merancang game tersebut bertujuan agar pengguna game dapat bermain sambil belajar. Namun dalam perjalanannya, Hompimpa games kurang laku di Indonesia sehingga dia bertekad menjualnya di Jerman.
"Akhirnya jualan di Jerman sampai 1000 pieces produk terjual dalam waktu singkat, berbeda dengan Indonesia, mungkin banyak yang tidak suka game," tuturnya sambil tertawa.
Tak lesu dengan usaha gamenya, Kaesang mengembangkan diri dengan usaha bertajuk "Madang" yang konsepnya menawarkan market place mirip go food. Hanya saja, Madang diinovasikan dengan bermitra bersama ibu rumah tangga.
"Saat saya berjalan di Semarang, saya lihat banyak ibu-ibu yang punya produk luar biasa, hanya saja mereka susah berjualan, inilah peluang yang saya ambil. Market place tersebut membuat salah satu mahasiswa ITB yang bergabung dengan Madang bisa  memiliki omzet Rp 500 ribu dalam 30 menit," tandasnya.
Mengevaluasi usahanya yang naik turun, tak membuat Kaesang patah semangat. Alumnus Anglo-Chinese School Singpuara ini menekankan, dalam berwirausaha harus banyak hal yang dipersiapkan dengan matang. Selain itu, inovasi dan diferensiasi produk juga diperlukan.
"Mengapa menjual pisang goreng, ya terserah saya. Namun dalam membuat pisang goreng harus menjadi produk agar wow dan beda sehingga menjadi selling point yang tidak dimiliki orang lain, seperti Sang Pisang," ulasnya sambil mempromosikan Sang Pisang, produk barunya.
Selain itu, untuk menjadi pengusaha, menurutnya harus out of the box dan edan. Jangan takut bangkrut dan tak ada modal. Kaesang mengakui, ia mengawali usahanya dengan menabung lima tahun untuk modal usaha, lalu bangkrut. Namun kini dia membuka beberapa usaha baru baik di bidang clothing line, game dan kuliner dengan omzet ratusan juta.
"Saya bangkrut dengan uang tabungan lima tahun habis untuk modal. Tapi sekarang bangkit lagi dengan rumus ATM," pungkasnya. (mg3/han)

Berita Terkait