Stok Langka, Harga Garam Melonjak

MALANG RAYA – Krisis garam yang terjadi di tanah air beberapa minggu belakangan, membuat pasokan garam di Malang Raya langka. Kondisi ini menyebabkan harga garam melesat tiga kali lipat lebih. 
Tercatat di Kota Batu, Kota Malang dan Kabupaten Malang, sudah sebulan ini beberapa toko di pasar tradisional kesulitan menjual garam, karena sama sekali tidak ada stok yang bisa dijual. Baik garam yang berbentuk serbuk maupun garam yang berbentuk briket.
Bahkan garam grasak (garam kerikil) yang biasanya hanya dipergunakan untuk kebutuhan tertentu, seperti campuran makanan kuda atau membuat telur asin, kini ikut langka. “Yang beli bingung, yang jual juga bingung, karena segala macam garam tidak ada, padahal banyak sekali yang membutuhkan,” ujar Sunarti, pedagang di Pasar Batu. 
Seiring dengan hilangnya berbagai jenis garam, harganya di pasaran pun mulai naik. Garam briket yang harga awalnya hanya Rp 8000 per plastik (36 briket) kini melonjak naik menjadi Rp 28 ribu hingga Rp 30 ribu. 
Begitu juga dengan Ervina, pedagang di Pasar Batu sempat tiga minggu tidak berjualan garam karena tidak ada barangnya. Hingga akhirnya ia mendapatkan garam di Singosari untuk dijual. “Itu pun harganya sangat mahal, tetap saja kita beli daripada tidak bisa jualan,” ujar Ervina.
Agung Puji Susetyo, pedagang Pasar Tawamangu Kota Malang mengaku sejak sebulan yang lalu, sales langganannya berhenti mengirimkan stok garam. Sebenarnya dirinya bisa saja memasok garam dan membelinya di Pasar Besar. Namun hal tersebut tidak dilakukannya karena harga yang dipatok terbilang mahal. 
Ia menerangkan, normalnya membeli di pasar induk per biji balok garam Rp 2000.  Akan tetapi, saat ini per biji balok garam dijual Rp 9000. Hal ini membuat dirinya mengurungkan niat untuk memasok stok garam di lapaknya. “Padahal belasan orang nyari setiap hari ke toko saya beli garam. Tapi saya terpaksa bilang (stok) sedang kosong,” tandasnya. 
Begitu juga yang terjadi di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Malang. Normalnya garam kemasan besar dijual seharga Rp 3000 per bungkus. Namun saat ini melonjak naik menjadi Rp 9000 per bungkus. Kondisi ini, dipantau Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Malang. 
Kepala Disperindag Kabupaten Malang, Drs Abdulrachman Firdaus MSi, mengatakan beberapa merek garam kemasan bahkan sudah hilang dari pasar tradisional. Dia menyebut salah satu garam kemasan yang sudah hilang tersebut, yakni Cap Kapal.  “Penyebabnya, pasokan garam dari para petani berkurang. Lantaran produksinya memang sedang menurun,” ujar pria yang akrab disapa Pengki ini pada Malang Post.
Menurutnya, baik itu garam halus maupun garam kasar pasokannya sudah minim. Bila stoknya ada, akan tetapi harganya naik tiga kali lipat. Sedangkan permintaan masyarakat semakin tinggi. “Stoknya ada di pertokoan modern seperti Alfamart dan Indomart. Dari laporan dua pertokoan modern tersebut, terdapat stok sebanyak satu ton,” kata Pengki sapaan akrabnya.
Kondisi garam yang langka ini, pihaknya langsung berkomunikasi dengan pemerintah provinsi dan Kementerian terkait untuk mengatasi masalah tersebut. “Kami juga berkoordinasi dengan Bulog. Apabila masih ada stok yang melimpah, langsung disalurkan kepada masyarakat,” tuturnya. 
Minimnya stok garam di pasar akan terus dipantau oleh Disperindag, hingga situasi kembali normal seperti sebelumnya. “Masyarakat kami imbau supaya tidak panik. Saat ini pemerintah sedang mencari cara untuk mengatasi kelangkaan garam,” tuturnya. 
Pengki berharap, setelah digerojok oleh Bulog, dapat menekan harga jual lebih rendah dan menjaga stok yang ada. Selain itu, dia berharap produktivitas daerah penghasil garam kembali normal seperti sedia kala. Sehingga, pasokan kepada beberapa daerah tidak berkurang dan sekaligus mengatasi kelangkaan stok garam di pasaran.
Sementara itu, Gubernur Jatim, Dr H Soekarwo saat dimintai tanggapan mengenai hal ini menjelaskan bahwa di beberapa daerah di Indonesia memang saat ini ada yang mengalami intensitas hujan yang tinggi. Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya kelangkaan garam. “Kalau kena hujan, garam kan kembali cair. Nah ini hujannya akeh (banyak). Kalau terang benderang garam over produksi. Permasalahannya ini,” papar Soerkarwo.
Ia menambahkan memang pada saat-saat ini garam langka karena cuaca. Akan tetapi kondisi ini tidak akan lama. Soekarwo mengatakan bahwa sebesar 80 persen garam di Indonesia pun impor dari luar negeri seperti Australia Barat yang memiliki tambak garam industri besar. Maka dari itu, ia menjelaskan bahwa kelangkaan garam ini akan diupayakan untuk mencari daerah lain yang masih subur garamnya seperti di Kalianget, Sumenep Madura. (dan/big/ica)

Berita Terkait