Okupansi Terjaga Berkat OTA


MALANG - Memasuki low season, okupansi Riche Heritage Hotel masih terjaga dengan aman. Setiap bulannya, mereka masih mampu mengisi sebesar 50 persen hingga 60 persen dari 52 kamar yang tersedia. Tingkat keterisian kamar tersebut terbantu pemesanan beberapa Online Travel Agent (OTA) yang bekerjasama dengan hotel.
Director Riche Heritage Hotel, Ansori Abdullah mengatakan pada bulan September lalu, saat mulai memasuki low season, okupansi pada hotel tersebut masih normal. Tingkat keterisian dari jumlah kamar sudah hampir penuh. “Dari total 52 kamar yang ada, okupansi kami berada sekitar 50 persen hingga 60 persen. Meskipun sedang low season, okupansi kami masih cenderung stabil,” ujar dia.
Ansori melanjutkan, berdasarkan dari okupansi yang diperoleh, sekitar 35 persen tamu berasal dari OTA yang sudah bekerjasama dengannya. “Pemesanan melalui OTA tersebut sangat membantu kami dalam menggenjot okupansi. Rata-rata, yang melakukan pemesanan adalah para traveler, baik yang sendirian maupun bersama dengan keluarga atau teman,” terang dia.
Untuk meningkatkan revenue hotel dan menggenjot tamu, Riche Heritage Hotel terus mengembangkan beberapa inovasi. Mulai dari restoran hingga menyediakan meeting room hingga perpustakaan kecil yang berisi buku-buku bahasa Belanda. “Untuk perpustakaan, memberikan kontribusi terhadap revenue sebesar 15 persen. Selain itu, kami juga mengembangkan restoran dan meeting room untuk corporate atau komunitas yang memerlukan space,” imbuh dia.
Ansori melanjutkan, berbagai upaya tersebut juga dilakukan untuk branding kepada masyarakat agar lebih mengenal dekat hotelnya tersebut. “Kalau branding, setiap hari masih terus kami lakukan. Ini juga upaya membangun kepercayaan dan kenyamanan masyarakat kepada kami. Selain itu, kami juga berharap masyarakat supaya aware terhadap beberapa fasilitas dan event yang kami sediakan,” bebernya.
Riche Heritage Hotel membidik berbagai macam kalangan, mulai anak muda hingga keluarga. Beberapa waktu lalu, hotel tersebut merubah beberapa konsep agar lebih diterima oleh anak muda dengan suasananya yang lebih instagramable.
“Kebanyakan tamu kami memang anak muda dan beberapa orang dewasa yang memahami sejarah. Beberapa suasana kamar dan karyawan kami juga masih terkesan tradisional. Supaya tidak menghilangkan sisi heritage-nya,” pungkasnya. (tea/nda)

Berita Terkait