Belajar Menghargai Orang Lain

MALANG - Setiap hari, Erlyta Putri (26) berhadapan dengan berbagai macam customer yang memiliki karakter berbeda-beda. Tak jarang, wanita yang bekerja sebagai Customer Service di Indosat Ooredoo ini sering menemui pelanggan yang terkadang ‘ngeyel’. Namun, hal tersebut tak membuat Erlyta menyerah dalam menjalani pekerjaannya.

Kepada Malang Post, wanita yang akrab disapa Lyta ini mengaku menjalani profesinya sebagai customer service selama empat tahun. Dalam melakoni pekerjaannya itu, Lyta memiliki tantangan tersendiri ketika bertemu dengan banyak orang dengan berbagai macam karakter.
“Senang saja, setiap hari ketemu pelanggan yang macam-macam. Hal tersebut bisa membuat kita terus belajar bagaimana cara menghargai dan menyikapi orang lain,” tukas lulusan S1 Ilmu Komunikasi Universitas Merdeka Malang tersebut.
Selama melakoni pekerjaan tersebut, Lyta mengaku pernah mendapat kendala. Suatu hari, ada seorang laki-laki yang berusia skitar 40 tahun ingin mengurus kartu yang hilang. Namun, ketika hendak mengurus, KTP yang dimiliki orang tersebut kadaluwarsa. “Saya sempat eyel-eyelan dengan orang itu. Saya bilang, kalau tidak bisa diurus dengan menggunakan KTP yang kadaluwarsa, tapi beliau memaksa,” ucap dia sambil tertawa.
Setelah melakukan perdebatan yang cukup lama, akhirnya sang bapak tersebut mengalah. Dia pun pulang dengan tangan hampa. “Mau bagaimana lagi, sudah ketentuan dari kantor seperti itu. Akhirnya bapak tersebut mengalah dan pulang. Setahu saya, dia juga tidak kembali lagi,” lanjut Lyta.
Lyta menambahkan, meskipun sempat ikut merasa ‘geregetan’ menghadapi customer yang seperti itu, tapi dalam melaksanakan tugasnya tersebut dia harus tetap ramah. “Tegas namun humanis, itu sih. Jadi aku masih menanggapi dengan santai tapi tegas dan pelanggan juga tidak tersinggung dengan kata-kata atau pelayanan yang diberikan,” imbuh dia.
Sementara itu, di tengah kesibukannya, dia suka menyisihkan waktu untuk berbelanja segala kebutuhan fashion. Lambat laun, kebiasaannya tersebut juga akhirnya dijadikan ladang usaha. “Sudah dua tahun ini saya buka usaha fashion berjualan baju, awalnya ya dari hobi belanja itu,” tukas dia.
Ketika sedang libur, dia memanfaatkan waktu seefektif mungkin untuk mengelola usaha penjualan bajunya tersebut. Ada yang dipasarkan secara online, ada juga yang dijual dengan mengikuti beberapa event pameran yang ada di mall. “Sejauh ini, antusiasnya juga cukup bagus. Para remaja perempuan dan mahasiswa jadi sasaran utama bisnis saya. Satu hari bisa laku hingga lima unit baju,” beber Lyta.
Lyta juga menambahkan,. Dalam menjalankan pekerjaan maupun usaha, dia mengaku mengikuti proses yang ada. “Dalam melakukan pekerjaan apapun, tidak bisa terlalu terburu-buru. Dinikmati saja prosesnya, nanti hasilnya akan pasti,” pungkas dia. (tea/udi).

Berita Terkait