Menakar Peluang Inovator Frugal

Oleh : Detha Alfrian Fajri
Dosen Jurusan Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya


    Inovasi frugal, meskipun telah dipopulerkan oleh The Economist sejak tahun 2010, terminologi frugal sesungguhnya telah dikenal oleh negara – negara dengan populasi penduduk berpendapatan menengah ke bawah yang cukup besar jumlahnya. Sebagaimana di India, inovasi frugal akrab disebut sebagai “jugaad” dengan Gandhian Engineering-nya dan di Tiongkok dengan sebutan “shanzaai”. Fontana (2012) menyebut inovasi frugal sebagai cara berinovasi ditengah keterbatasan sumber daya termasuk keterbatasan daya beli pasar. Bhatti (2012) bahkan lebih jauh menjelaskan bahwa inovasi frugal tidak hanya menghasilkan produk atau layanan yang murah namun juga peningkatan daya beli masyarakat karena terciptanya sumber pendapatan, tabungan, atau skema pembayaran lain yang pada akhirnya memberikan manfaat sosial kepada pasar kalangan menengah ke bawah.

Karenanya tidak heran jika bermunculan produk atau layanan hasil inovasi frugal di negara – negara berkembang. Rickshaw Bank di India misalnya. Bank ini memberikan layanan kepada pengendara rickshaw (seperti becak) yang umumnya masyarakat menengah ke bawah untuk dapat memiliki rickshawsendiri dengan skema pembiayaan tertentu agar dapat dimiliki secara pribadi sehingga dapat mengakselerasi pendapatan mereka.
    Lantas bagaimana di Indonesia? Sejak penetrasi internet dan ponsel pintar menunjukkan angka yang signifikan, mulailah bermunculan perusahaan – perusahaan rintisan (start-up) yang memanfaatkan kesempatan tersebut dan pada akhirnyatidak hanya mendapatkan keuntungan namun juga membantu masyarakat menengah ke bawah untuk mendapat tambahan penghasilan. Start-up di Indonesia yang berhasil padasektor transportasi, e-dagang, teknologi finansial (tekfin) dan pariwisata ini sejatinya secara konsep telah menerapkan apa yang disebut dengan inovasi frugal dimana secara model teoritis merupakan kombinasi antara inovasi Schumpeterian(yang berfokus pada inovasi teknologi dan bisnis), Inovasi sosial, dan inovasi institusional (Bhatti, 2012). Meskipun dengan karakter disruptifnya para start-up tersebut mengahadapi tantangan yang begitu besar dari perusahaan lama namun tetap saja peminat mereka terus bertambah tidak hanya dari sisi jumlah pelanggannamun juga dukungan masyarakat secara umum yang terbantu dengan hadirnya para disruptor ini.
PeluangKomersialisasi

    Peluang memperbesar skala bisnis bagi inovator frugal sesungguhnya terbuka lebar.Terlebih dengankapasitas bertumbuh sebagai pemain global, karakternya jelasberbeda dengan UMKM. Pembiayaan jumbo yang mereka perlukan untuk berkembang pun tidak dapat dipenuhi dengan kredit murah perbankan seperti halnya UMKM, melainkan melalui venture capitalatau bahkan dengan skema perusahaan patungan (join venture). Pembiayaan melalui venture capitalistpun terbuka.Di Sillicon Valley misalnya, venture capitalistdisanabersedia melabuhkan dananya hanya dengan melihat passion dan cara pendiri start-up tersebut mempresentasikan bisnisnya. Bagaimana dengan skema perusahaan patungan? pada tahun 2007 Muhammad Yunus membuktikan bahwa pemain besar pun berminat melayani pasar menengah kebawah. Bersama Danone, Yunusmembangun perusahaan patungan yang diberi nama Grameen Danone untuk melayani pasar menengah ke bawah di daerah pedesaan Bangladesh. Perusahaan ini memproduksi yogurtyang diberi nama Shokti Doi, yang berarti “yogurt untuk energi” dalam bahasa Bengali. Produk ini melayani kebutuhan 49 persen anak-anak Bangladesh yang kekurangan zat besi; kekurangan vitamin A, B2, C; kekurangan kalsium; kekurangan yodium; dan kekurangan seng. Hal ini berarti selama ekosistem bisnis mendukung pertumbuhan inovasi frugal maka peluang komersialisasi inovasi yang disebut “not just about doing more with less but about doing better with less” oleh Radjou dan Prabhu (2014) ini terbuka lebar.
Dalam konteks Indonesia penulis melihat setidaknya terdapat tigafaktor yang menjadi peluang berkembangnya inovasi frugal.Pertama, dari sisi pasar yang dilayani yaitu pasar domestik.Selain jumlah kelompok middle class melonjak tajam, disisi lain populasi menengah ke bawah masih cukup besar jumlahnya. Data BPS pada September 2016 menunjukkan bahwa penduduk miskin Indonesia berjumlah 27,76 juta orang atau 10,7 persen. Ceruk pasar ini memiliki segudang problem yang belum terselesaikan seperti air bersih, listrik, transportasi, sampah, perumahan, kesehatan dan seterusnya yang memungkinkan start-up pada sektor iniberkembang atau membangun kerjasama dengan perusahaan besar yang memiliki perhatian pada persoalan tersebut sebagaimanaYunus dengan Grameen Danone-nya.
    Kedua, ekosistem bisnis yang mulai didukung oleh regulator. Sebagaimana yang terjadi dalam bidang keuangan dengan pesatnya penetrasi internet danponsel pintar. Bisnis tekfinpun menjadi sangat bergairah sehingga bermunculan start-up tekfin dari beragam bentuk mulai dari pembayaran, P2P lending sampai crowd funding. Hal ini mendorong pemerintah untuk memberikan panduan bagi para pelakunya. OJK sebagai wasit keuangan akhirnya mengeluarkan peraturan bagi bisnis tekfin melalui peraturan OJK 77/POJK.01/2016 yang diterbitkan bulan Desember 2016 lalu. Hal ini menjadi sinyal bahwa ekosistem sharing economy ini telah mulai terbentuk dengan dukungan pemerintah.
    Ketiga, ranking inovasi Indonesia membaik. Laporan indeks inovasi global mengabarkan bahwa ranking Indonesia naik sembilan peringkat dari yang sebelumnya berada di urutan 88 (2016) menjadi 87 (2017). Begitu juga dengan laporan indeks daya saing global tahun 2017, peringkat Indonesia naik ke 36 dari 41. Begitu pula dengan subindeks C tentang innovation and business sophistication, Indonesia terus menunjukkan tren positif dengan kenaikan peringkat dari ranking 33 (2015) dan 32 (2016) menjadi 31 pada 2017. Meskipun peningkatannya tidak spektakuler setidaknya iklim inovasi dan bisnis di Indonesia mulai menggeliat.
Ketiga hal diatas memberikan pengaruh yang kuat terhadap hadirnya generasi pengusaha baru yang berhasil karena kemampuannya menangkap peluang. Kemampuan ini penting karena dalam kajian tentang modal manusia, pengusaha yang lahir karena kemampuannya menangkap peluang akan mampu bertahan lebih lama dari pada pengusaha yang lahir karena terdesak kebutuhan hidup (Block dan Sandner, 2006). Semoga semakin banyak pengusaha Indonesia yang hadir melalui inovasi frugalnya yang tidak sekedar berorientasi profit tetapi juga berusaha menyelesaikan problem masyarakatnya. Semoga. (*)

Berita Terkait