Inklusi dan Literasi Asuransi Tumbuh Subur


MALANG - Saat ini, tingkat pengetahuan atau kesadaran masyarakat terkait perlunya asuransi terhitung cukup tinggi. Ini dibuktikan dengan tingginya angka literasi dan inklusi yang terdata di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang.
Hingga September 2017, pertumbuhan total aset asuransi secara nasional tercatat hinngga Rp 628,68 triliun. Kepala OJK Malang, Widodo mengatakan, saat ini, tingkat literasi dan inklusi masyarakat terkait kebutuhan asuransi cukup tinggi.
“Utamanya dengan jasa asuransi yang disediakan oleh pemerintah, seperti BPJK Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan. Tingkat inklusi keuangan untuk BPJS Kesehatan adalah sekitar 63,83 persen, sedangkan tingkat literasinya mencapai 28,29 persen,” ungkapnya.
Sementara untuk tingkat inklusi BPJS Ketenagakerjaan berada di angka 5,05 persen dan tingkat literasi di angka 11,02 persen. Menurutnya, kebutuhan suransi yang diwajibkan oleh pemerintah tersebut, mampu mendongkrak tumbuhnya pendapatan asuransi.
Berbagai perusahaan jasa yang memiliki melakukan kerjasama dengan asuransi, seperti perbankan hingga perkreditan akan tumbuh dengan cepat. “Kalau dibandingkan dengan para asuransi yang berdiri sendiri, pertumbuhannya agak lebih lambat,” ujar Widodo.
Kalau ingin tumbuh cepat, lanjutnya, asuransi harus bekerjasama dengan lembaga keuangan lain atau bergantung kepada kebijakan dan pilihan masyarakat itu sendiri. Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK, Riswinandi mencatat industri asuransi hingga September tumbuh semakin baik dengan total aset mencapai Rp 628,68 triliun.
Jumlah tersebut meningkat 17,6 persen dibanding posisi Desember 2016 (year to date) sebesar Rp 534,57 triliun. “Nilai investasi industri asuransi pada posisi 30 September 2017 telah mencapai Rp 505,57 triliun atau meningkat sebesar 22,42 persen dibandingkan Desember 2016 sebesar Rp 412,98 triliun,” kata dia.
Sementara, jumlah pendapatan premi asuransi dan reasuransi sampai dengan 30 September 2017 telah mencapai Rp 183,45 triliun atau mencapai 71,1 persen dari proyeksi yang telah ditetapkan OJK untuk periode sampai dengan 31 Desember 2017.
“Kami optimis bahwa pendapatan premi asuransi dan reasuransi akan mampu mencapai Rp 258 triliun sampai dengan 31 Desember 2017 sesuai dengan proyeksi OJK,” tegas dia. Selain itu, kesehatan keuangan industri asuransi secara umum dalam kondisi baik.
Hal itu tercermin dari beberapa rasio keuangan seperti rasio likuiditas asuransi jiwa mencapai 143,4 persen posisi 30 September 2017. Sementara di asuransi umum dan reasuransi memiliki rasio likuiditas sebesar 179,1 persen. (tea/mar)

Berita Terkait