Natal dan Tahun Baru, Booking Hotel Berbintang Laris Manis


MALANG - Guest house dan hotel di Kota Malang ikut merayakan manis Hari Raya Natal dan Tahun Baru dengan tingkat okupansi yang tinggi. Beberapa hotel bintang tiga dan empat paling laris dipesan.
Public Relations The 1O1 OJ Malang Hotel, Gitvy Fitria Marethasary mengatakan, banyak tamu yang sudah memesan kamar untuk tahun baru. “Kami terus menggencarkan beberapa promo agar okupansi terisi penuh dan kami optimis bisa tercapai. Pada hari H nanti pasti full booked, banyak tamu yang langsung melakukan walk in,”  kata dia.
Hal senada juga diungkapkan oleh Executive Secretary Harris Hotel & Conventions Malang, Ires Mariska. Dia menyebutkan, saat ini, okupansi hotel untuk pesanan khusus tahun baru berada di angka 50 persen. “Ketika Hari H selalu penuh, kami optimis bisa mencapai target. Karena jujugan wisatawan datang ke Malang selalu ke hotel kami,” ujar dia.
Sedangkan untuk salah satu hotel yang baru saja diresmikan pada 12 November 2017 lalu, pertumbuhannya cukup pesat. Hotel tersebut banyak diburu wisatawan. “Hotel kami memang terhitung baru, namun okupansinya tinggi dan growthnya bagus. Selama liburan dan menjelang tahun baru, bisa menembus 90 persen on hand dari 156 kamar. Kami optimis bisa capai target,” ungkap Marketing Manager Whiz Prime Hotel Malang, Shanty Bakhsh.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Malang Dwi Cahyono mengatakan, banyak hotel yang fully booked untuk Natal dan Tahun Baru. “Sudah lebih dari 50 persen hotel di Malang mulai dibooking, rata-rata hotel bintang tiga dan empat. Sedangkan untuk guest house dan kelas melati, akan full saat hari H dengan walk in guest,” kata dia.
Dwi juga mengungkapkan, saat ini rata-rata okupansi berada di angka lebih dari 60 persen. Dia mengatakan, total hotel seluruhnya di Malang ada lebih dari 150 hotel dengan ketersediaan lebih dari 6.000 kamar. Mulai hotel kelas melati, guest house, hingga hotel berbintang. “Mau Natal sudah mulai naik okupansinya, puncaknya hingga Tahun Baru nanti,” lanjut dia.
Dwi menerangkan, dilihat dari data Pariwisata Asia, tahun ini industri perhotelan agak menurun dibanding tahun lalu, dimana city occupancy hingga akhir tahun berada di kisaran angka 70-80 persen. “Salah satunya karena faktor cuaca. Selain itu juga karena daya beli dan perekonomian secara global,”jelasnya.
Menurut Dwi, promo-promo yang diberikan oleh pihak hotel juga mempengaruhi tingkat okupansi. Tidak sedikit hotel yang memberikan program khusus Natal dan Tahun Baru, seperti harga dan fasilitas yang disediakan. Mengingat, cuaca yang tidak menentu, dan berjaga akan hujan, orang cenderung memilih  hotel yang mempunyai fasilitas indoor dan menghindari paket outdoor. “Dengan begitu, masyarakat akan menimbang ketika akan booking hotel. Justru paket itu yang akan diuji. Dengan adanya fasilitas indoor ataupun outdoor tersebut, tanpa keluar hotel, tamu bisa menikmati malam pergantian tahun,” tukas dia.
Lebih lanjut Dwi mengungkapkan, terkait banyaknya hotel baru yang bermunculan di Malang, saat ini trend wisatawan memang cenderung memilih hotel baru. Oleh karena itu, tingkat hunian hotel baru cenderung lebih tinggi. “Dari situ lah kemampuan service diuji. Hotel baru pasti dicoba, apalagi oleh travel agent,” lanjut Dwi.
Dwi menambahkan, PHRI berharap agar pelaku hotel tidak hanya menyiapkan program-program khusus untuk Natal dan Tahun Baru saja, tetapi juga untuk Januari-Februari. Pada penutup tahun kali ini, pihaknya juga akan membahas mengenai promosi yang diberikan untuk awal tahun depan bersama beberapa pelaku industri perhotelan di Malang. “Jangan lupa untuk siapkan paket-paket untuk Januari-Februari, soalnya setelah tahun baru akan turun tajam. Jadi itu yang harus disiapkan, jangan hanya menyiapkan untuk Natal dan Tahun Baru, kemudian setelah itu kebingungan,” tegas dia.(tea/han)

Berita Terkait