Persaingan Makin Ketat, Hotel Berlomba Usung Konsep Kreatif


Malang Post, Sepanjang tahun 2017 ini, bisnis Hotel di Malang Raya semakin manis. Terbukti dalam tiga bulan terakhir, beberapa hotel baru beroperasi, antara lain Whiz Prime Hotel dan Front One Hotel yang merupakan hotel jaringan serta D’Lobby Hotel dan The Himana.
Semakin ketatnya persaingan tersebut membuat hotel-hotel baru harus lebih kreatif. Tak sekadar menyediakan kamar, tetapi hotel-hotel baru ini juga harus mengedepankan konsep yang jelas. Ada yang tampil dengan mengangkat tema unik hingga ada yang memilih mengusung gaya hotel kapsul yang lebih simple.
President Director Intiwhiz Hospitality Management, Moedjiantono S Tjahjono mengatakan, saat ini, pertumbuhan beberapa kota cukup pesat, utamanya Kota Malang. Dengan perkembangan yang pesat di sektor bisnis dan pariwisata, menjadi salah satu alasan Intiwhiz untuk ekspansi ke Kota Malang. “Perkembangan pariwisata Kota Malang cukup bagus. Oleh karena itu, pasti membutuhkan banyak hotel bagi para wisatawan yang datang. Sehingga, hotel yang ekspansi ke sini akan lebih hidup,” papar dia.
Hotel Manager Whiz Prime Basuki Rahmat Malang, Azis Sismono menambahkan, pihaknya tidak hanya fokus mengejar okupansi kamar, tapi juga meeting room. “Kota Malang adalah kota MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), karena itu kami menyediakan meeting room yang berkapasitas hingga 100 orang untuk pangsa pasar terbesar,” kata Azis.
Selain Whiz Prime Hotel, Azana Hotels & Resort melakukan ekspansi ke Kota Malang. Menghadirkan hotel butik bergaya retro yang dilabeli dengan nama Front One Boutique Hotel, Azana membidik okupansi 80 persen setiap bulannya.
Chief Executive Officer Azana Hotels & Resort, Dicky Sumarsono mengatakan, Front One Boutique Hotel adalah butik hotel ketiga yang dibuka di Indonesia, yang berada di bawah manajemen Azana Hotel & Resort. “Hotel ini memberikan konsep retro dengan suasana yang homey dan masih tetap menjaga unsur kolonial. Butik hotel ini mengutamakan kepuasan customer dengan sentuhan personal," papar dia.
Pada kesempatan tersebut, Dicky juga menjelaskan, Front One tidak menyasar tamu yang biasa memilih hotel budget. Tamu yang disasar lebih spesifik, yaitu orang-orang yang memang membutuhkan waktu untuk beristirahat dan menikmati interior retro. "Makannya kamarnya tidak banyak karena yang datang ke sini adalah orang-orang yang memang butuh istirahat. Kami akan memberikan pelayanan maksimal bagi para tamu sejak dia check in hingga check out," ujar dia.
Selain kehadiran dua hotel baru tersebut, muncul juga tren hotel kapsul di Kota Malang. Salah satu yang adalah WoodLot Hostel yang terletak di kawasan Jalan MGR Sugiyopranoto. WoodLot hadir dan siap bersaing dengan hotel kapsul yang sudah lebih dulu eksis, seperti Butik Capsule Hotel yang terletak di Jalan WR Supratman.
Berbeda dengan hotel umumnya yang menawarkan kamar yang lebih privat untuk para tamu, konsep hotel kapsul menghadirkan dormitory atau ruang besar yang terdiri dengan beberapa tempat tidur. Konsep hotel kapsul sendiri sudah sangat dikenal di beberapa negara maju, seperti Jepang. Untuk WoodLot Hotel, memiliki sekitar 26 dormitory, sedangkan Butik Capsule Hotel memiliki sebanyak 32 dormitory.
Dormitory tersebut terdiri dari beberapa kasur susun. Masing-masing kasur susun tertutup dengan gorden sehingga privasi para tamu tetap terjaga. Selain mendapat ruang untuk istirahat, tamu juga mendapat jatah breakfast, alat mandi, kamar mandi berupa shower dan toilet terpisah dan fasilitas wifi untuk kemudahan komunikasi
Sementara itu, secara terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Malang Dwi Cahyono mengatakan, total hotel seluruhnya di Malang ada lebih dari 150 hotel dengan ketersediaan lebih dari 6.000 kamar. Mulai hotel kelas melati, guest house, hingga hotel berbintang. Terkait banyaknya hotel baru yang bermunculan di Malang, saat ini trend wisatawan memang cenderung memilih hotel baru. Oleh karena itu, tingkat hunian hotel baru cenderung lebih tinggi. “Dari situ lah kemampuan service diuji. Hotel baru pasti dicoba, apalagi oleh travel agent,” tandas Dwi pada Malang Post. (tea/nda)

Berita Terkait