magista scarpe da calcio Peredaran Uang Palsu Menurun 15 Persen


Peredaran Uang Palsu Menurun 15 Persen


MALANG – Upaya Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang meredam peredaran uang palsu (upal) membuahkan hasil. Terbukti sepanjang tahun 2017, jumlah uang palsu yang ditemukan menurun sekitar 15 persen dibandingkan tahun 2016.
Ketua Tim Sistem Pembayaran, Pengedaran Uang Rupiah, Layanan dan Administrasi KPwBI Malang, Rini Mustikaningsih mengatakan, temuan upal sepanjang tahun 2017 sebanyak 5.385 lembar. “Temuan sepanjang 2017 ini jumlahnya berkurang dibandingkan dengan 2016 lalu, yakni sekitar 6.320 lembar. Jumlah tersebut berasal dari laporan bank sebanyak 5.307 lembar dan laporan masyarakat 78 lembar," kata Rini.
Sebanyak 5.385 lembar didominasi pecahan Rp 100 ribu, yakni sebanyak 62 persen atau sekitar 3.339. Disusul pecahan Rp 50 ribu sebanyak 35 persen atau sekitar 1.885 lembar. Sedangkan sisanya pecahan lain, yakni 3 persen atau sekitar Rp 161 lembar.
Penurunan peredaran uang palsu ini menurut Rini, salah satunya disebabkan oleh gencarnya sosialisasi 3D (Dilihat, Diraba dan Diterawang) yang dilakukan oleh BI kepada masyarakat. Dengan sosialisasi 3D ini, masyarakat semakin waspada saat menerima uang dan menggunakannya, sehingga mengurangi ruang gerak para pengedar upal.
Meski demikian, BI tidak mau terlena. Di tahun 2018, pihaknya akan semakin giat melakukan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang Rupiah kepada masyarakat. “Selain itu, masyarakat juga diharapkan mau melaporkan temuan uang palsu agar peredarannya dapat diredam,” tukas wanita berjilbab tersebut.
Rini menambahkan, uang Rupiah memiliki ciri-ciri berupa tanda-tanda tertentu yang bertujuan mengamankan dari upaya pemalsuan. Secara umum, ciri-ciri keaslian uang Rupiah dapat dikenali dari unsur pengaman yang tertanam pada bahan uang dan teknik cetak yang digunakan, seperti tana air (watermark) dan electrotype, benang pengaman, cetak imtaglio (cetak kasar), gambar saling isi (rectoverso), tinta berubah warna, tulisan mikro, tinta tidak tampak dan ada gambar tersembunyi. “Cukup terapkan 3D. Kalau tanda-tanda uang di atas bisa diihat dan dirasakan, berarti uangnya asli,” pungkas dia.
Sementara itu, tahun 2018 yang merupakan tahun politik, masyarakat diminta lebih waspada terhadap peredaran upal. Pasalnya banyak oknum-oknum tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan momentum pilkada di berbagai tempat untuk mengedarkan upal. (tea/nda)

Berita Terkait

Copyright © 2018 Malang Pos Cemerlang Goto Top