Ekonomi Tumbuh Optimis Tekan Pengangguran


MALANG – Pertumbuhan ekonomi yang diprediksi meningkat 5,5 di tahun ini oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan mampu menarik tenaga kerja baru. Sehingga kondisi ini dapat menekan jumlah penangguran yang ada.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala OJK Malang, Widodo. Tahun 2018, perekonomian akan tumbuh karena adanya berbagai macam upaya yang dilakukan pemerintah untuk melakukan pembangunan daerah melalui infrastruktur. Dengan demikian, sektor pembiayaan perdagangan eceran dan rumah tangga (konsumsi) akan meningkat.
“Pada tahun 2016, untuk pembiayaan rumah tangga ada di angka Rp 15,3 triliun, sedangkan 2017, Rp 16,6 triliun. Berarti naik 10 persen. Sehingga, tahun ini kami optimis juga akan ada kenaikan,” terang dia ketika ditemui Malang Post.
Kenaikan tersebut, diharapkan mampu tumbuh sekitar 5,5 persen. Analisisnya, jika warga Indonesia berjumlah sekitar 500 ribu jiwa, setiap kenaikan ekonomi 1 persen dari jumlah penduduk tersebut akan memiliki pekerjaan. “Jadi, setidaknya ada sekitar 2.500 angkatan kerja baru. Perekonomian harus terus dipacu untuk menyerap tenaga kerja. Agar gap tidak semakin jauh,” beber dia.
Menurutnya,wilayah Malang memiliki potensi tinggi untuk meningkatkan perekonomian. Selain dari sektor perdagangan, pertanian dan hasil laut, Malang Raya juga memiliki potensi pariwisata yang saat ini tumbuh dengan subur. Apalagi, sisi Sumber Daya Manusia (SDM) jauh lebih baik daripada skala nasional.
“Sudah terbukti dengan literasi masyarakat terhadap perekonomian. Jawa Timur berada di angka 37 persen. Sedangkan secara nasional, pemahaman masyarakat (literasi) masih di angka 29,66 persen. Masyarakat Jawa Timur, termasuk Malang berarti pintar-pintar,” ujar Widodo.
Pada kesempatan yang sama, Widodo juga sempat menjelaskan hasil perolehan kinerja OJK Malang sepanjang 2017. Untuk pertumbuhan kredit pada pembiayaan bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ada di angka Rp 41,8 triliun atau mengalami peningkatan 12,3 persen dari tahun 2016, yaitu di angka Rp 39,2 triliun.
Sementara untuk Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di prosentase 69,3 persen pada tahun 2017. Sedangkan pada 2016, ada di 72,2 persen. “Artinya kredit turun dibanding Dana Pihak Ketiga (DPK). Kalau prosentase di bawah 100 persen, artinya DPK-nya dihimpun. Daya serap sektorial kurang dan dana dihimpun di Malang dan tidak semua disalurkan untuk kredit di Malang, tapi keluar. Jadi, bank kurang aktif dan sektor riil kurang aktif,” lanjut dia.
Widodo menambahkan, untuk DPK total yang ada di Malang, pada tahun 2017 mencapai angka Rp 61,4 triliun, sedangkan pada 2016, ada di angka Rp 54,3 triliun atau naik sebesar 12 persen. Sementara, dana yang disalurkan untuk kredit dari LDR sebesar Rp 42,5 triliun. “Kami berharap, rasio LDR ada di atas 80 sampai 90 persen. Kalau ada pada prosentase tersebut, dana yang dihimpun masyarakat bisa kembali ke Malang lagi,” pungkas dia.(tea/nda)

Berita Terkait