Recall, Peminat Rush Tetap Tinggi

FEBRI SETYAWAN/MALANG POST
RECALL: Toyota Rush harus terkena recall karena potensi bermasalah pada airbag. Meski begitu, animo peminat Rush tetap tinggi. 
 
JAKARTA - Recall atau penarikan kembali Toyota Rush tidak mempengaruhi minat konsumen untuk membeli kendaraan baru yang sedang booming ini. Recall dilakukan Toyota karena ada potensi masalah pada airbag. Rush yang direcall ini mulai tahun 2017 sampai 2019 termasuk All New Rush. 
"Kalau mempengaruhi penjualan tidaklah. Buktinya permintaan konsumen di dealer-dealer terhadap Rush tetap tinggi," ungkap Hairil Anwar, Service Business Development Dept Head Auto2000 kepada Malang Post di Jakarta kemarin.
Menurutnya, recall ini diumumkan secara terbuka kepada publik. Pemilik kendaraan Toyota Rush juga diajak secara terbuka membawa kendaraan ke bengkel resmi Toyota seluruh Indonesia. Bengkel tersebut bukan hanya Auto2000 tetapi seluruh dealer atau bengkel resmi Toyota. 
Dia menjelaskan, benar ada potensi masalah pada airbag. Bengkel nantinya akan memperbaiki sistem ECU airbag. Sistem lama airbag pada Toyota Rush membuat sangat sensitif. Jika melintas pada jalan berlubang saja, airbag sudah mengembang. "Paling perbaikan hanya 30 menit. Potensi masalah ini bukan airbag depan, tetapi samping. Karena Rush dilengkapi dengan fitur airbag bukan hanya depan, tetapi juga samping," katanya.
Toyota Rush yang kena recall ini sekitar 60.300 unit secara nasional. Pihaknya tidak memiliki target kapan recall dan perbaikan airbag selesai. Hal itu juga tergantung kesiapan pemilik Rush ke bengkel Toyota. Malahan Auto2000 juga menyediakan THS, pelayanan konsumen langsung ke rumah jika pemilik Rush sangat sibuk.
Recall seperti ini juga menjadi campaign keselamatan bagi Toyota. Toyota juga sudah melakukan hal yang sama generasi sebelumnya. Sebut saja Kijang Innova juga pernah direcall karena ada potensi produksi pada velg. Velg tersebut diganti dengan baru dengan kualitas lebih baik. 
Sedang velg yang diambil langsung dihancurkan untuk menghindari penggunaan kembali. "Ini untuk kepentingan safety dan kita campaign secara terbuka. Kalau kita silent dan konsumen tahu, pasti mempengaruhi after sales," pungkasnya yang juga dibenarkan Suparman, Service Koordinator Wilayah DKI 1. (feb/lim)

Berita Terkait