Produk Unggulan Kota Luar Jawa Pikat Pembeli, Produsen Cari Distributor

 
MALANG - Indonesia City Expo (ICE) memanjakan pelaku UMKM dan warga dalam transaksi berbagai produk. Kegiatan  yang digelar dalam rangkaian Rakernas APEKSI ini berhasil mendongkrak pendapatan penjual beragam produk. Total transaksi per hari di ICE sekitar Rp 80 juta. Dalam ajang tersebut, beberapa pelaku UKM dari berbagai kota di seluruh Indonesia membawa langsung produk unggulan mereka. Di antaranya  olahan dari lidah buaya yang dibawa langsung dari Pontianak dan juga berbagai olahan laut yang langsung didatangkan dari Tarakan. Benisiuis Kowira, Owner Jestkin’s Aloevera dari Pontianak membawa sekitar 30 dus penuh yang berisi minuman lidah buaya.
“Satu dus berisi lima kilogram. Untuk ukuran 120 ml, sudah habis semua. Para pengunjung sampai harus inden dulu,” katanya kepada Malang Post saat ditemui di lokasi ICE di area luar Stadion Gajayana.
Dia mengatakan, pengolahan lidah buaya sangatlah tidak mudah. Butuh proses yang panjang dan orang berpengalaman yang bisa membuat lidah buaya tersebut menjadi suatu sajian yang enak.
“Hal ini karena lidah buaya yang besar dan paling tinggi berasal dari Pontianak. Korea dan Jepang juga beli bahan dari kami,” ujar dia kepada Malang Post.
Pemasaran produk tersebut, di kota asalnya biasa dipasarkan di beberapa supermarket besar. Selain itu, di beberapa kota lain juga tak ketinggalan.
“Kami punya distributor di Kota Batu. Kota Malang belum, saya berharap melalui ajang ini bisa dapat distributor dari Malang, saya ingin sekali ada distributor disini” ujar dia sambil tersenyum.
Selain minuman, dijual juga berbagai olahan lidah budaya lainnya, seperti cokelat cempon. Yaitu cokelat yang diisi dengan potongan kecil lidah buaya, manisan, teh hingga kosmetik.
“Tadinya mau bawa kosmetik juga, tapi karena keterbatasan personel jadi kami tunda dulu,” terang dia.
Bahan-bahan tersebut dibandrol dengan harga mulai Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu dan bisa tahan lama hingga berbulan-bulan.
“Manisan bisa awet selama satu bulan, minuman juga bisa awet hingga sembilan bulan jika dimasukkan ke dalam kulkas. Semua tergantung dengan bagaimana menyimpannya,” tandas dia.
Kota Tarakan juga ikut menjual hasil lautnya dalam ICE kali ini. Mereka membawa berbagai olahan laut mulai dari Ikan Crispy, Ikan Kering, Abon Kepiting hingga sambal Dayak. Fitriani, salah satu pegawai Bagian Perekonomian Pemkot Tarakan mengatakan hasil laut merupakan komoditi besar yang dihasilkan di  Kota Tarakan.
“Kami terletak di pulau kecil yang dikelilingi laut. Tak heran, kami memiliki banyak hasil laut dan dikembangkan oleh beberapa UKM yang ada di kota kami,” jelas dia kepada Malang Post.
Olahan ikan, seperti ikan crispy dan ikan kering bisa dimakan dengan menggunakan nasi putih hangat dan juga dipadukan dengan sambal.
“Kami juga menjual sambal Dayak, khas Tarakan. Cabai yang digunakan dalam pembuatan sambal ini ditanam oleh suku pedalaman kami,” lanjut dia.
Selain itu, ada juga kerupuk cumi dan juga abon kepiting yang ikut dijual disana. “Masing-masing produk kami bawa hingga 50 bungkus. Sudah laku hampir sparuh,” beber dia.  
Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, rata-rata perhari, masing-masing stand mendapat keuntungan sekitar Rp 1 juta. Kepala Seksi Promosi Dinas Pariwisata Kota Malang, Agung Harjana Buana mengatakan perkiraan omset yang didapat dalam satu hari berjumlah sekitar Rp 80 juta.
“Disini, total sekitar 80 stand lebih. Satu stand selama satu hari bisa melakukan transaksi hingga Rp 1juta, tinggal dihitung saja,” kata dia.
Agung menerangkan, transaksi penjualan tidak hanya ketika pameran saja, tapi juga setelah pameran.
“Fokusnya adalah order sekarang (ketika pameran) terus bisa dikembangkan lagi buat waktu berikitnya, potensinya sangat tinggi sekali,” terang dia. (mg16/van)

Berita Terkait

Berita Lainnya :