Menelurusi Jejak Kampung Pecinan


Malang Post, Kawasan Pecinan Kota Malang dikenal warga sebagai salah satu pusat sentra perekonomian. Pecinan saat ini terus berkembang menjadi pusat perdagangan yang menopang perekonomian begitu banyak warga.
Meski begitu, tidak banyak yang tahu, awal pendirian kawasan Pecinan adalah didasarkan pada konsep politik. Yakni, konsep segregasi atau pemisahan kelompok berdasarkan ras yang dilakukan pemerintah zaman kolonial Belanda di Kota Malang beratus tahun lalu.
Kepala Seksi (Kasi) Pemasaran Disbudpar Kota Malang Agung H Buana menjelaskan, Kampung Pecinan di Kota Malang berkembang saat Belanda menerapkan politik pembagian strata administrasi kependudukan. “Dimana penduduk dibagi dengan berbagai golongan rasnya. Yakni Eropa, timur jauh dan Arab India,” papar Agung kepada Malang Post.
Hal ini bisa dilihat sampai sekarang, karena di kawasan Kampung Pecinan yang saat ini berada di Kawasan Jalan Pasar Besar, didekatnya pun ada Kampung Arab yang saat ini berada di Kawasan Jalan Syarif Al-Qodri. Agung melanjutkan, pembagian wilayah tinggal tersebut dilakukan Pemerintah Belanda agar dapat melakukan kontrol masyarakat lebih mudah.
“Model pembagian blok berdasarkan ras ini kemudian menjadikan proses asimilasi dan alkulturasi dengan warga lokal, yang kemudian juga turut berkembang,” tandas Agung.
Ia menerangkan kembali, bahwa unsur meleburnya kebudayaan etnis Tionghoa dan warga lokal dapat dilihat di kawasan Pecinan Kecil (Jalan Wiro Margo). Kawasan ini terdapat Makam Mbah Wiro, sesepuh warga lokal yang dimakamkan di lokasi pemukiman Tionghoa di sana.
“Beberapa jenis makanan dan minuman juga mengalami percampuran, termasuk Kue Moho,” tandasnya.
Agung melanjutkan, saat ini kawasan Pecinan memang sudah berkembang pesat. Meski begitu ia mengakui peninggalan rumah-rumah kuno zaman dulu sedikit demi sedikit sudah mulai banyak berubah.  Akan tetapi masih ada yang masih bisa dilihat dan menjadi daya tarik wisatawan yang mencari nuansa heritage Kota Malang.
“Ada beberapa rumah pecinan peranakan yang masih bertahan, salah satunya Hotel Alimar Pasar Besar. Lalu rumah di samping ex hiburan malam Flame, masih terjaga,” ungkap Agung.
Berdasar informasi ini, Malang Post kemudian menyusuri sisa-sisa Pecinan zaman kolonial Belanda ke kawasan yang sekarang sudah menjadi hotel. Saat berada di lokasi, ternyata hotel ini tidak mengubah banyak rumah peninggalan etnis Tionghoa di awal-awal terbentuknya Kampung Pecinan tersebut.

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...