Putra Asli Kepanjen, Suarakan Kritik Sosial Melalui Lukisan


MALANG - BERAGAM cara dilakukan untuk menyampaikan kritik sosial. Salah satunya seperti dilakukan Didik Adi Sukoriyono yang menuangkannya melalui karya lukisan. Ada yang mengkritisi soal lingkungan, keserakahan manusia dan kebijakan pemerintahan. Ia sudah menghasilkan ribuan karya, mayoritas mengenai kritik sosial.
Beberapa lukisan terpampang di dinding rumah Didik Adi Sukoriyono di Jalan Sidomaju, No. 30 Dusun Ketawang, Desa Ngadilangkung, Kecamatan Kepanjen. Yang menarik perhatian, salah satunya lukisan berukuran besar dengan tinggi lebih dari dua meter. Lukisan itu menggambarkan sosok badut sedang membawa pot berisikan tanaman. Sedangkan wajah badut itu sangat murung dan latar belakang dari lukisan berwarna gelap.
Melalui lukisan ini, Didi Adi Sukoriyono ingin menyampaikan bahwasanya program Go Green atau penghijauan berjalan kurang maksimal. Sehingga, dalam hal ini masyarakat yang dirugikan karena masih banyaknya pembalakan hutan.
“Selama ini banyak yang menggaungkan penghijauan, akan tetapi keadaannya ya masih begini saja. Pembalakan liar masih terjadi di mana-mana,” ucap Didik menggebu-gebu.
Usai menunjukan lukisan tersebut, bapak dua anak ini kemudian duduk di lantai rumahnya, kemudian mengambil sebanyak empat buah lukisan yang berada di bawah. Empat lukisan itu menggambarkan sebuah pisang, namun dengan kondisi berbeda-beda.
Pada lukisan pertama, pisang tersebut tampak utuh, seperti habis dipetik dari pohon. Namun, pada lukisan kedua, jumlah pisang mulai berkurang. Hanya tinggal kulit sebagai pertanda buah pisang yang ada di dalam kulit tersebut dimakan manusia. Sedangkan pada lukisan ketiga, kondisi pisang sudah berkurang banyak, hingga pada lukisan keempat dalam kondisi habis.
“Lukisan ini menandakan keserakahan manusia. Disediakan berapapun banyaknya pasti habis. Hal semacam inilah kritisi sosial yang saya sampaikan melalui karya lukisan,” kata pria asli Desa Ngadilangkung, Kepanjen ini.
Semenjak tahun 1987 menekuni bidang seni rupa, ia langsung mengusung aliran kontemporer. Terutama kritisi sosial dan berbagai masalah dalam kehidupan. Bukan tanpa alasan dia mengambil aliran tersebut. Karena masih banyaknya kehidupan masyarakat yang kurang beruntung dan bebragai masalah di kehidupan masyarakat.
“Ini hanya sebuah ekspresi yang saya lihat sehari-hari di masyarakat, kemudian dituangkan melalui lukisan,” tuturnya.
Untuk membuat lukisan kritik sosial berukuran besar tersebut, ia membutuhkan waktu selama satu bulan. Mulanya, tujuan dia membuat lukisan semacam itu hanya sebagai menyalurkan kritik sosial.
Namun, lukisan karyanya itu ternyata diminati oleh masyarakat serta kolektor lukisan. Bahkan ia diminta membuat lukisan untuk dipajang di hotel maupun di rumah makan. Di antaranya karyanya itu dipajang di Hotel YNO Castell Kepanjen seharga Rp 4 juta. Ada juga lukisan di Rumah Makan Amsterdam Kota Malang. Ia juga sering kali mengikuti pameran di berbagai daerah.

Berita Terkait

Berita Lainnya :