Deris Sandra Arifianto, Mahasiswa yang Juga Perajin Wayang Kulit

Saat ini perajin kesenian wayang kulit di Kabupaten Malang hampir bisa dikatakan semakin mengerucut. Namun dari meredupnya jumlah perajin seni, setidaknya masih ada penerus berusia muda. Dia adalah Deris Sandra Arifianto, warga Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.
Di usia 20 tahun, ada harapan besar yang berada di pundaknya. Tidak hanya wayang kulit, Deris juga menekuni berbagai kesenian lain seperti wayang topeng, karawitan dan dalang di sanggar seni Madyo Laras yang dipimpin ayahnya sendiri. “Beruntungnya saya punya keturunan mulai dari kakek yang menekuni dunia seni khususnya wayang topeng. Tapi saya lebih condong dan senang menekuni kerajinan wayang kulit,” ujar Deris.
Pemuda kelahiran Malang, 1 Desember 1996 ini baru mendalami kerajinan wayang kulit saat kelas XII. Sebelumnya, ia suka menonton salah satu perajin wayang kulit almarhum Sucipto yang punya panggilan akrab Pak Cip. “Dulu saya belajar saat masuk kelas VII SMP. Awalnya mencoba gambar tokoh pewayangan di kertas. Yang saya rasa, semakin lama semakin menarik. Hingga saya pesan ke Pak Cip,” kenangnya.
Dari memesan wayang kulit tersebut, hampir setiap hari sepulang sekolah Deris datang ke tempat Pak Cip di Sumberpucung, untuk melihat proses pembuatan karya asli Indonesia itu. Pemuda yang saat ini melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Negeri Malang, Fakultas Sastra Seni Tari ini menambahkan, selama satu minggu ia relakan waktunya untuk belajar proses pembuatan wayang kulit yang dipesannya. “Waktu itu saya mulai pagi sampai sore nungguin Pak Cip mengerjakan wayang kulit yang saya pesan. Kemudian, saya coba praktikkan sepulang sekolah di rumah. Hampir selama tiga tahun, saya menjalani proses belajar itu. Dan anehnya, saya sangat menikmati. Mungkin itu yang dinamakan seni,” terangnya dengan tawa.
Kini, ketekunan, kesabaran dan keuletan yang dimiliki anak dari Susilo Hadi itu berbuah manis. Puluhan karya telah tercipta dari tangannya, baik karya yang dijual atau dinikmati sendiri. “Kebanyakan karya yang saya buat merupakan pesanan dan beberapa saya koleksi sendiri. Untuk pemesanannya lebih banyak dari Magetan,” imbuhnya.
Deris menjelaskan, setiap bulan ia bisa menghasilkan 3-11 karya, berdasarkan pesanan. Sebelum memulai menggarap pesanan, biasanya Deris mencari “hari baik”, supaya karyanya maksimal. “Khusus untuk mbedahi (mengukir wajah, Red) kebanyakan dilakukan pada malam Jumat legi pukul 12.00 malam. Itu agar wayang terlihat hidup saat dimainkan,” terangnya.
 
Dalam pengerjaannya, ia melakukan sendiri prosesnya dari awal hingga akhir. Mulai menggambar kulit dengan tokoh wayang yang diminta, kemudian memotong sesuai gambar. Lalu menata sesuai pola hingga penghalusan. Proses akhir adalah melakukan pengecatan. Untuk pewarnaan, yang harus dikerjakan terlebih dahulu adalah warna muda, kemudian baru warna-warna tua.
Dersi mematok harga beragam untuk setiap karyanya. Tergantung bahan dasar kulit yang digunakan dan tingkat kerumitan tokoh wayang. Untuk bahan dasar yang biasa ia pakai dalah kulit kerbau karena memiliki ketebalan dan kualitas yang bagus ketimbang kulit sapi. “Untuk harga tergantung dari lama pengerjaan dan permintaan tokoh pewayangan. Tokoh Batara Kala termasuk yang mahal. Pengerjaannya membutuhkan waktu lama dan rumit sebab ada ukiran-ukiran kecil di mahkota. Pengecatannya menggunakan model Klaten,” katanya.
Dibandingkan dengan model Solo atau Jogja, Deris mengatakan, pengecatan model Klaten memiliki motif bunga-bunga kecil dengan semburan berbagai warna di setiap tokoh pewayangan. Harga yang dipatoknya antara Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta.
Sementara itu, dengan kesibukan kuliah yang padat, ia tidak hanya menekuni kerajinan wayang kulit saja. Deris juga mengajari anak-anak muda di kampungnya untuk belajar membuat kerajinan wayang kulit dan aktif di sanggar seni milik ayahnya. “Saya tidak pernah memaksa anak-anak untuk menyukai seni, tapi lebih banyak mengajak bermain agar mereka suka dan nyaman dulu. Karena saat ini jarang anak-anak muda yang mau bergelut dengan seni budayanya sendiri,” ungkapnya.
Deris berharap, ia tidak akan kenal lelah mengajak anak-anak di kampungnya melestarikan seni budaya warisan Indonesia itu. Di masa mendatang, ia berencana akan fokus pada kerajinan wayang kulit yang saat ini ditekuninya. “Tidak hanya berhenti pada perajin wayang kulit. Saya juga kan berusaha mengembangkan seni wayang topeng dan karawitan yang dipimpin bapak, serta mengajak anak-anak untuk melestarikan seni budaya Indonesia,” pungkasnya.(mg20/han) 
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :