John Martono Pelukis Berbakat Asal Kota Batu


Malang perlu memberikan apresiasi besar bagi seniman-senimannya. Khususnya Kota Batu, yang ternyata menjadi cikal bakal pelukis berbakat yang kini lebih dikenal di dunia daripada kota asalnya, Kota Batu. Dia adalah John Martono, seniman lukis asal Oro-Oro Ombo Kota Batu yang karyanya saat ini menghiasi Kota Bandung sampai galeri seni di Melbourne dan Miami.
John, begitu ia ingin dipanggil, ketika Malang Post menghubunginya via telepon. Meski berasal dari Kota Batu, John kini berdomisili di Kota Bandung dan kini ia menetap di sana. Sekaligus memberikan kontribusi pembangunan dengan hasil karya seninya yang otentik.
“Memang aku mulai mendapatkan jaringan dan kenalan banyak yang kemudian membawaku sampai seperti sekarang karena dulu kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung,red),” ungkap John kepada Malang Post ramah.
Sebelum hijrah ke Bandung ini, Jhon mengakui bahwa kota kelahirannyalah yang membuatnya yakin untuk mendalami dunia seni lukis kontemporer sampai saat ini.
Pria gondrong ini menceritakan bahwa dirinya secara otodidak belajar seni lukis dengan melihat orang-orang sekelilingnya. Kedua orang tuanya pun tidak memiliki bakat seni lukis yang spesifik, Jhon secara mandiri belajar sejak TK.
“Sejak TK dan SD sudah senang sekali kalau bapak aku beliin cat air. Kalau bapak itu apa saja dikasih asal anaknya senang. Karena dukungan dari kecil ini saya bisa berkembang. Nah kebetulan juga bapak ini suka buat patung-patung sederhana dari koran atau karton,” papar Jhon.
Seiring perjalanan waktu ini, Ayahnya terus mendorong Jhon untuk berkembang. Melihat Jhon kecil selaku suka menggambar, suatu hari ayahnya membawanya salah satu kawannya seorang pelukis senior Kota Batu.
“Namanya Pak Iksan, dia buat patung pejuang menyobek bendera Belanda di Taman Makam Pahlawan di Kota Batu. Aku dikenalin sama bapak ke Pak Iksan dari sana mulai tahu seni-seni lebih dalam,” cerita pria yang telah dikaruniai dua anak ini.
Saat duduk di bangku SMP, Jhon pun kian menguat bakat seni lukisnya. Ia mulai menggambar potret wajah kawan-kawan sekelasnya. Saat itu banyak yang menyukai gambarnya dan mulai berdatangan orderan gambar potret wajah.
Ia mengaku sempat dibayar Rp 2.500 sampai Rp 7 ribu sekali mengerjakan order lukis wajah. Alumnus SMP 1 Batu ini kemudian menerangkan bahwa saat duduk di bangku SMA pun ia iseng melukis wajah-wajah kabinet-kabinet RI zaman itu.
“Guruku lihat. Lalu kemudian gambarku dipajang di majalah dinding. Lalu aku mulai disuruh ikut Porseni. Walaupun ga pernah juara I tapi itu jadi jalan awal,” terang pria kelahiran 1977 ini.
Lulus SMAK Yos Sudarso Batu pada tahun 1990, Jhon pada saat itu tidak tahu ingin kuliah di mana. Ia juga merasa ingin mendalami ilmu seninya dengan belajar dari seniman langsung atau otodidak. Ia pun sempat pergi ke rumah salah satu keluarganya di Jakarta.
Selama beberapa bulan di Jakarta ia mendatangi dan berkenalan dengan seniman-seniman di sana. Dan menjadi sering bermain ke sebuah sanggar seni yakni Sanggar Gelanggang Jakarta Utara. Di sana ia sempat beberapa waktu mengajar lukis.
“Sampai suatu ketika ada kenalan yang ngajak aku kuliah di ITB. Saya pikir mana bisa. Kan ITB itu teknologi. Dan ternyata ada jurusan desain seninya. Karena itu aku langsung tertarik masuk. Tapi memang desain seninya ternyata adalah desain industri tekstil,” ungkapnya.
Meski begitu Jhon tetap mendalami, karena nyatanya di jurusan desain dan seni tekstil ini ia mendapatkan ilmu yang saat ini melambungkan namanya. Dengan beberapa kali eksperimen, akhirnya Jhon menciptakan sebuah karya lukis kontemporer memadukan serat tekstil dengan cat warna.

Berita Terkait

Berita Lainnya :