Mbah Slamet, Perajin Aneka Topeng Tradisional


MALANG - Tidak banyak perajin topeng di Malang yang mampu menciptakan aneka topeng tradisional berasal dari berbagai daerah. Salah satu dari yang sedikit itu, adalah Mbah Slamet yang dikenal membuat aneka topeng seperti Topeng Malangan, Topeng Leak dari Bali dan Topeng Barongsai. Uniknya, pembuatan topeng memakai bahan daur ulang berupa kertas bekas.
Untuk menemukan rumah Mbah Slamet di Desa Sutojayan, Kecamatan Pakisaji, sangat mudah. Letaknya di pinggir jalan dan berbatasan langsung dengan Desa Wonokerso, Kecamatan Pakisaji. Apabila bertanya kepada warga desa, maka mayoritas mengenalnya dengan sebutan Mbah Slamet Macanan.
Sebutan itu disematkan masyarakat desa kepadanya, lantaran dia juga membuat aneka topeng berkarakter macan dan banteng, yang biasanya digunakan untuk karnaval. Saat Malang Post ke sana, warga pun langsung menunjukkan rumah Mbah Slamet yang tampak sederhana. Di depan rumah berwarna hijau itu, terpampang beberapa Topeng Malangan dan Topeng Macan.
Untuk Topeng Macan, wajahnya berwarna putih dan rambutnya kuning muda. Sedangkan Topeng Malangan dibuat dengan berbagai macam karakter Panji. Seperti karakter Panji Asmoro Bangun, Dewi Sekar Taji, Klana Sewandana dan Bapang. Topeng itu ada yang masih polosan atau belum diwarnai, adapula yang sudah berwarna.
Selain topeng khas Malangan, juga ada Topeng Leak dari Bali, Topeng Barongsai, Topeng Jaranan dan Topeng Leang Leong yang dipajang di dalam rumah. Saat itu, Mbah Slamet tampak menata berbagai macam topeng di rumahnya. Usai melakukan semua aktivitas itu, ia menerima Malang Post dan mulai bercerita tentang perjalanan membuat aneka macam topeng yang dilakukan sejak 20 tahun silam.
“Tepatnya tahun 1998 lalu saat reformasi saya mulai menekuni pembuatan topeng ini. Awalnya, saat itu saya membuat topeng khas Malangan, karena ingin mengangkat ciri khas Malang yang memang dikenal dengan topengnya,” ujar Mbah Slamet.
Sembari melanjutkan pembicaraan, dia mengambil sebuah topeng berwarna merah di meja. Topeng tersebut memiliki kumis tebal. Karakter dari topeng tersebut, yakni Klana Sawendana yang merupakan bagian dari cerita Topeng Panji. Dengan suara lirih, Mbah Slamet menceritakan Klana Sawendana merupakan tokoh antagonis yang juga musuh dari Raden Panji.
“Karakter topeng Klana digambarkan sebagai sosok yang memiliki mata besar dan memiliki kumis tebal seperti ini,” tuturnya.
Mulanya kakek tiga cucu ini memang ingin mengangkat Topeng Malangan. Namun dia mencoba keluar dari area tersebut dengan mencoba membuat berbagai macam topeng tradisional dari berbagai daerah. Seperti Topeng Leak dari Bali, Topeng Barongsai dan Topeng Leang-Leong yang identik dengan unsur Tionghoa, Serta Topeng Jaranan dari Kediri serta Ponorogo. Semua jenis topeng itu dibuat dengan keterampilan tangannya sendiri.
Bahan bahan daur ulang dari kertas bekas yang digunakannya untuk membuat topeng, diperoleh dari pemulung. Kertas-kertas itu ia rendam dalam air panas hingga menjadi bubur. Selanjutnya, air ditiriskan dan bubur kertas tersebut dituangkan ke dalam cetakan yang terbuat dari tanah liat. Setelah cetakan lembut dan dibentuk sedemikan rupa, kemudian dijemur di bawah matahari.
“Setelah itu, topeng ini saya cat sesuai dengan karakter masing-masing atau tergantung dari permintaan yang memesan,” kata Mbah Slamet.
Ia lalu menunjukkan beberapa cetakan topeng yang setengah jadi, Mbah Slamet menyebut topeng yang dibuat tergantung permintaan. Ada yang meminta hanya putih polosan serta belum dicat. Adapula yang meminta topeng sudah dicat dan menyerupai suatu karakter. Topeng polosan, biasanya dipesan oleh anak-anak SD untuk dijadikan media pembelajaran mengecat Topeng Malangan, sedangkan yang sudah diwarnai, biasanya dipesan oleh pedagang maupun distribrutor topeng se Malang Raya.
Kakek berusia 73 tahun ini membutuhkan biaya produksi sebesar Rp 10 ribu untuk satu topeng yang ia jual kembali seharga Rp 15 ribu. “Kalau pesanan paling banyak menjelang Agustusan atau Suroan. Biasanya saat Suroan digunakan untuk ritual serta karnaval budaya,” kata Mbah Slamet Macanan.
Kakek kelahiran 17 Agustus 1945 ini melanjutkan, karakter topeng tradisional berasal dari berbagai daerah yang dibuatnya itu sebenarnya mengemban suatu pesan. Yakni, meski berbeda-beda daerah, tapi tetap damai dan satu jua. Hal ini kata dia, sesuai dengan simbol Kebhinnekaan yang ada di Indonesia.
“Meski dari berbagai daerah, apapun itu agama serta sukunya, harus tetap rukun dan damai. Hal ini juga tergambar melalui topeng yang saya buat,” tuturnya.
Masih kata Mbah Slamet, tidak banyak perajin yang membuat aneka macam topeng tradisional. Apalagi keuntungan membuat topeng yang bisa dikatakan rumit itu juga tidak sebarapa. Meski demikian, dia tetap bertahan dengan membuat aneka topeng tersebut meski kurang menguntungkan. “Lantaran tujuan saya untuk melestarikan keberadaan topeng tradisional. Apapun keadaannya, saya tetap ajan terus membuat topeng,” tuturnya.
Kegigihannya dalam membuat aneka topeng tradisional kini membuahkan hasil. Dia meraskan mulai banyak anak-anak yang menyukai topeng buatannya. Sehingga, dia berharap di masa mendatang semakin banyak anak-anak maupun generasi penerus yang suka terhadap kesenian tradisional terutama membuat topeng tradisional ini. (binar gumilang/han)   

Berita Terkait

Berita Lainnya :