Cerita Duo Polwan Cantik Makota yang Jago Tembak


Polisi wanita memang sungguh memesona. Badan semampai, wajah cantik dan senyum merekah menawan. Tapi jangan macam-macam dengan polwan. Mereka memiliki kemampuan menembakkan senjata api. Lihat saja, duo polwan Satlantas Polres Makota, Bripka Kurnia Hayati dan Bripka Irma Andahwati ini. Di balik sosok anggun dua polwan tersebut, mereka terlatih dalam menggunakan senjata api. Karena keahlian menembak adalah persyaratan utama bagi anggota korps Bhayangkara untuk menegakkan hukum di Indonesia. Namun, kedua Polwan ini berbeda, mereka memiliki bakat dan skill di atas rata-rata.
Karena itulah, dalam rangkaian peringatan hari perempuan internasional beberapa hari lalu, Bripka Irma dan Bripka Nia menunjukkan keahlian menembaknya di Pusdik Sabhara Porong. Dengan sigap, keduanya memeragakan keahlian standar petugas kepolisian sebagai penembak ulung dengan senjata laras panjang, Senapan Serbu V-1 buatan PT Pindad Persero.
Tidak sekadar menembak, Bripka Irma dan Bripka Nia, menembak dalam tiga posisi yang sulit. Mereka membidik sasaran dengan modal cermin, menembak dari antara kedua kaki, serta menembak dengan satu tangan dan posisi tubuh rebah. Hanya dengan tiga tembakan, Bripka Nia dan Bripka Irma sukses mengenai tiga sasaran.
Menurut Bripka Nia, keahlian menembak adalah kewajiban semua petugas kepolisian. Karena, polisi merupakan pengayom masyarakat yang harus sigap dan tajam dalam membuat keputusan untuk memuntahkan peluru tajam dari senapan atau pistolnya. “Semua polisi wajib ahli menembak, karena tugas kita sebagai pengayom dan pelindung masyarakat,” papar Nia kepada Malang Post.
Meski demikian, menurut polwan alumnus Sekolah Polwan angkatan 2001 tersebut, keahlian menembak itu didapatkan dari latihan. Untuk peragaan yang dilakukan di Pusdik Sabhara Porong beberapa waktu lalu, Bripka Irma dan Bripka Nia tetap harus menjalankan latihan untuk kelancaran acara.
Menurut Nia, ada beberapa persyaratan yang harus dimiliki seorang penembak saat mengincar sasaran. “Semuanya harus siap, mulai dari fisik hingga mental. Pegang senjatanya gak boleh salah, harus selaraskan mata dengan senjata serta target. Apalagi, saat menembakkan senjata dengan satu tangan sambil merebahkan tubuh, itu menantang kekuatan tangan,” sambung anak bungsu dari empat bersaudara itu.
Sebuah senjata yang ditembakkan, bakal memberikan recoil atau hentakan balik kepada pemegang senjata. Sehingga, kekuatan tangan diperlukan untuk menjaga senjata tidak meleset. Sebelum menembak, Nia menyebut tubuh harus kuat memegang senjata, lalu kondisi mata, fisik dan mental juga harus dimantapkan.
“Yang terpenting pikiran dan hati tidak boleh terdistraksi. Pikiran harus fokus. Kalau hati sedang galau, sebaiknya jangan menembak, nanti malah meleset, hahaha,” seloroh polwan yang sekarang sedang menempuh kuliah di jurusan Psikologi Universitas Merdeka Malang ini.
Dalam kemampuan menembak, sekolah Polwan membagi kualifikasi akurasi tembak menjadi tiga kelas. Yakni, kelas 1, 2 dan 3. Kelas 1, adalah kelompok polwan yang memiliki akurasi menembak di atas rata-rata. Bripka Irma dan Bripka Nia, merupakan lulusan sekolah Polwan yang masuk dalam kelas 1. Tidak mengherankan pula, bila kemampuan tersebut akhirnya bisa ditunjukkan dalam peragaan menembak di Pusdik Sabhara Porong.
“Semua polisi wajib memiliki kemampuan standar menembak. Tapi, akurasi menembak seorang polwan dibagi menjadi tiga kelas. Saya dan Nia kebetulan masuk kelas 1 dalam akurasi menembak,” sambung polwan asli Malang tersebut.
Menurutnya, selain fisik, mental dan konsentrasi yang harus siap, faktor cuaca pun memengaruhi. Jika kondisi hujan, maka pemandangan ke arah target bakal terganggu. Irma memaparkan, posisi menembak yang bisa diperagakan, bukan hanya mencari sasaran dari cermin, atau menembak dengan satu tangan dalam posisi berbaring.
“Ada pula posisi harus membelakangi sasaran dan hanya bermodal cermin. Kita melihat sasaran di belakang dengan cermin, lalu menembak,” papar anak ketiga dari lima bersaudara ini.
Irma pun menunjukkan video saat dirinya menembak sasaran di belakangnya dengan bermodal cermin, dan tepat sasaran. Polwan yang pernah bertugas di Polresta Balikpapan ini menambahkan, senjata revolver lebih pas untuk tugas keseharian polisi. Meski demikian, polwan Satlantas Makota itu menyebut tugas pokok yang dijalaninya sekarang sebagai salah satu polwan di Satpas SIM, lebih kepada tugas pelayanan dan tidak membutuhkan senjata api.
“Ini dulu sih, tapi saat masih bertugas di Polresta Balikpapan, saya ikut lomba kejuaraan menembak Polda Kaltim. Kebetulan saat itu saya juara 1, hehehe. Setelah itu gak pernah lagi ikut perlombaan, hanya sesekali latihan dan ikut quality control periodik per semester dari kantor,” tutup alumnus Sekolah Polwan angkata 2001 ini.(fino yudistira/han)

Berita Terkait

Berita Lainnya :

loading...