Mengikuti Jejak Mlumah, Grup Lawak Asal Malang


Grup lawak Malang Lucu Mahasiswa atau Mlumah sedang menapaki jalan menuju popularitas ketenaran. Setelah memenangkan kontes di salah satu variety show televisi, Mlumah mulai sering tampil di layar kaca bersama artis-artis nasional. Tentu saja, perjuangan mereka tak ringan seperti guyonan dan kelucuan para personel Mlumah.
Sejak tahun 2011 hingga sekarang, geliat stand up comedy sungguh menyajikan variasi hiburan bagi masyarakat. Baik stand up di layar kaca, maupun stand up indie yang bermunculan di Youtube, publik pencari hiburan tak lagi bingung mencari performa lucu pelawak. Namun demikian, Malang berhasil memunculkan grup lawak.
Berbeda dengan stand up comedy yang solo, kelompok komedi yang sudah jarang digemari para comic muda, dipilih menjadi jalan menuju popularitas oleh Mlumah. Nama tersebut, merupakan kependekan dari Malang Lucu Mahasiswa. Personel Mlumah berjumlah enam orang. Yakni, Muhamad Efrie Nugroho, Rahmad Syaiful Riza, Ryan Fauzi, Bagus Respati Dewantara, Satria Arpes Demantara dan Eggif Rada Yuana M.
“Tahun 2015, kita menjadi enam besar Audisi Pelawak Indonesia dan dikontrak oleh MNC Group untuk mengisi program acara sampai tahun 2016,” kata Efrie kepada Malang Post kemarin.
Ditemui di Gazebo Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, pelawak berusia 26 tahun itu memaparkan, Mlumah tampil di hadapan penonton televisi selama satu tahun.
Wajah mereka muncul di hadapan publik televisi dan menyajikan guyonan-guyonan khas grup lawak. Menurut Efrie, gaya grup lawak berbeda dengan stand up comedy yang populer sekarang. Jika stand up comedy merupakan gaya tutur monolog, maka grup lawak terdiri dari dua atau tiga orang, memiliki peran masing-masing.
“Kalau Mlumah sendiri, ada tiga peran masing-masing. Saya biasanya menjadi pengumpan, Ipoel (Syaiful) menjadi keset sedangkan Ryan memberi punchline. Tidak semua harus melucu, karena nanti malah tabrakan dan tidak harmoni,” sambung Efrie.
Setelah satu tahun merasakan industri hiburan nasional, Mlumah tak ingin berhenti. Usai kontraknya habis, Mlumah menjajal industri hiburan lewat ANTV. Pada tahun 2016, Mlumah memenangkan audisi Pesbukers Mencari Bakat dan menjadi juara 1 Surabaya. Dari audisi ini, Mlumah dikontrak selama tiga tahun oleh ANTV untuk tampil di berbagai acara on air televisi.
Mlumah sudah satu panggung dengan para artis nasional seperti Raffi Ahmad, Jessica Iskandar, Nagita Slavina, Ruben Onsu, Denny Cagur serta artis lainnya. “Kita sudah keliling Jawa sih, besok (hari ini) kita ke Surabaya untuk acara ANTV,” papar Efrie.
Pria 26 tahun yang berdomisili di Bandulan Sukun itu menerangkan bahwa gaya lawak Mlumah tetap konsisten. Yakni, tidak sekadar bercanda. Menurut Efrie, Mlumah selalu menyelipkan dakwah dalam candaannya di layar kaca, untuk menanggapi serta merespons berbagai isu dalam masyarakat. Menurut Efrie, pesan-pesan membangun juga diselipkan. Gaya ini sudah dipatenkan sejak awal Mlumah berdiri tahun 2013 lalu.
Dalam produksi Pesbukers sendiri, Efrie bertutur bahwa para talent tidak diberi latihan khusus. “Kita harus datang 1 jam sebelum live. Lalu, kita diberi alur oleh sutradara program, tapi materi lawakan tetap kita sendiri yang cari. Dulu sebelum sering tampil di televisi, kita selalu kumpul tiap Senin untuk bahas materi lawakan baru. Sekarang, karena jadwal agak padat, biasanya H-1 acara, hehe,” papar Efrie.
Popularitas dan penghasilan pun mulai meningkat bagi para personel Mlumah. Dengan sering tampil di hadapan televisi, grup lawak ini mulai mengecap manisnya industri selebritas. “Suka jadi pelawak, Alhamdulillah ketemu orang banyak, keliling kota, yang jelas bikin orang ketawa itu seneng. Duitnya juga banyak, hehe,” tandas anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Meski demikian, perjuangan Mlumah untuk menuju titik ini, tidak mudah. Mlumah berjuang di antara keraguan, cibiran serta ejekan dari orang-orang di sekitarnya, bahkan anggota keluarga sendiri. Efrie menyebut Mlumah masih dalam masa perjuangan untuk menancapkan namanya di hati masyarakat Indonesia.
“Kita ini kan masih setengah jadi, belum sepenuhnya jadi, sehingga masih diremehkan beberapa orang. Ada yang bilang kita mau jadi apa kalau hidup dari kesenian. Anggota keluarga pun ada yang bilang seperti itu, masih belum 100 persen percaya dengan hidup dari berkesenian,” papar Efrie.
Pada awal perjuangan Mlumah sejak berdiri tahun 2013 sebagai komunitas lalu berdiri sendiri menjadi grup pada 2014, Efrie mengaku pernah menghadapi performa yang sulit. Yakni, ketika penonton tak antusias dengan performa grup lawak. Suatu kali, Mlumah tampil di sebuah reuni sebuah sekolah.
“Saat kita naik ke panggung dan melawak, para penonton pulang. Soalnya perform kita sehabis doa. Jadinya ya kita naik ke panggung untuk menghibur panitia, hahaha. Pernah juga perform di reuni kampus, yang datang sepuh-sepuh, jadinya mereka ngobrol sendiri pas kita manggung,” tambahnya.
Bagi Efrie, semua duka dan tantangan yang dihadapi Mlumah, adalah pelajaran berharga untuk tetap konsisten bergerak di jalur grup lawak. Apalagi, Indonesia sudah mulai meninggalkan jalan grup lawak yang dulunya menjadi pilihan para pelawak untuk menapaki karir di industri hiburan. Misalnya saja Cagur, Patrio hingga legenda Warkop DKI.
“Harapan saya Mlumah bisa konsisten di dunia lawak. Karena, grup lawak sudah jarang, kebanyakan sudah stand up, semoga regenerasi grup lawak bisa terus berjalan,” tutupnya. Sementara itu, Eggif, satu-satunya wanita dalam Mlumah, mengaku belajar banyak dalam menghidupkan gaya lawak secara grup.
“Saya gabung dengan Mlumah tahun 2015. Passion dan sense of humornya cocok sih. Saya dapat banyak ilmu di Mlumah. Di kampus memang ikut organisasi, tapi sejak ikut Mlumah tambah banyak dapatnya. Saya juga dapat jam terbang, langsung pentas,” kicau wanita 23 tahun itu.(fino yudistira/ary)

Berita Terkait

Berita Lainnya :