Mendapat Pahala Umrah Sebelum Memulai Umrah


Tiga hari, waktu yang diberikan Betravel Insan Islami untuk 38 jamaah umrah selama di Madinah. Termasuk Malang Post yang kali ini memberangkatkan dua orang, Buari dan Nur Towilir Rohmah, harus memaksimalkan waktu yang ada. Khususnya selama  berada dekat dengan Nabi Muhammad SAW dan sebelum memulai rangkaian ibadah umrah. Berikut lanjutan catatan umrah Malang Post bersama Betravel yang ditulis Buari.
Tujuan kami ke Madinah dan berikutnya ke Makkah adalah untuk beribadah. Khususnya menghabiskan waktu di Masjid Nabawi selama berada di Madinah. Namun mengetahui perkembangan, situasi serta kondisi kota Madinah dan sekitarnya juga perlu, setidaknya dalam rangka mempelajari sejarah perjuangan Rasulullah SAW selama di kota yang penuh berkah ini.
Selasa (20/3), kami mendapat kesempatan melakukan city tour di Madinah. “Mengetahui tempat-tempat bersejarah dan memahami perjuangan Nabi Muhammad, adalah bagian dari upaya kita untuk lebih mencintai nabi, dan kita harap bisa lebih mempertebal iman. Kita jadwalkan city tour selesai sebelum dhuhur, agar tetap bisa salat berjamaah di Masjid Nabawi,” ungkap Ustadz Fathur Rohman, mutawif yang mendampingi kami selama perjalanan umrah.
Meski berlabel city tour atau terkesan jalan-jalan, namun tetap bernilai ibadah. Salah satunya adalah berkunjung ke Masjid Quba. Masjid yang pertama kali dibangun  Rasulullah SAW saat hijrah ke Madinah. Sebelum berangkat ke masjid ini, jamaah diminta sudah dalam posisi berwudhu dari hotel, dan menjaganya hingga sampai di Masjid Quba.
“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian dia mendirikan salat di sana, maka dia mendapat pahala umrah. Demikian hadits nabi yang bisa kita lakukan dengan berangkat punya wudhu dan salat di Masjid Quba, insya Allah kita telah mendapat pahala umrah, meski belum memulai rangkaian ibadah umrah,” terang Ustadz Fathur. Alhamdulillah. Semoga Allah menerima ibadah kami di Masjid Quba.    
Ternyata, meski telah diumumkan sehari sebelumnya dan disampaikan sebelum berangkat, nyatanya di antara kami, ada yang tak bisa menjaga wudhu hingga tak dapat langsung menunaikan salat di Masjid Quba. Setiba di masjid, ada beberapa jamaah yang harus ambil wudhu terlebih dahulu.
Perjalanan menuju Masjid Quba sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 5 km di sebelah tenggara Kota Madinah. Namun ternyata tidak mudah menjaga wudhu seperti diisyaratkan agar mendapat pahala umrah. Kebetulan kami berangkat jam 7 pagi dari hotel, bisa jadi pada waktu-waktu ini memang tidak mudah mempertahankan wudhu walau hanya sebentar.
Usai dari Masjid Quba, perjalanan dilanjutkan menuju Masjid Qiblatain, masjid dengan dua kiblat. Hanya melewati saja, kami juga diperkenalkan dengan Masjid Saba’-Khandaq, sebuah masjid yang merupakan jejak perjuangan Nabi Muhammad SAW saat perang melawan kaum Quraisy. Selanjutnya kami singgah di Jabal Uhud. Daerah pegunungan dengan kisah perang Uhud yang terkenal itu.
Banyak kisah dan cerita yang kami dapat dari tempat-tempat bersejarah itu. Terakhir kami singgah di pasar kurma. Tentu untuk berbelanja kurma nabi atau kurma ajwa yang dikenal bisa sebagai obat, penghilang racun dan penangkal sihir. Meski harganya sedikit lebih mahal, jamaah memborong kurma dan barang lainnya di lokasi pusat oleh-oleh ini.
“Sebenarnya bisa beli kurma dimana saja, termasuk beli di Indonesia, tapi yang membedakan kita beli di sini untuk mendapat barokah Kota Madinah, dengan kita berbelanja di sini, ikut memakmurkan Madinah, insya Allah berkah,” sebut Ustadz Fathur yang mengaku dia memang sudah ada kerjasama dengan travel untuk membawa jamaah ke pusat oleh-oleh ini.
Selesai city tour, kami harus kembali ke hotel untuk segera bersiap menuju Masjid Nabawi. Fokus lagi pada ibadah dan ibadah di masjid yang memiliki tempat istimewa, taman surga. Terasa singkat memang waktu di Madinah, dan kami harus sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju Makkah. Memulai ibadah umrah yang sebenarnya.  
Kesempatan terakhir di Masjid Nabawi hanya saat shalat subuh, hari Rabu (21/3). Kami pun  harus berpamitan. Mutawif menyarankan kami berangkat dari hotel menuju Makkah sebelum shalat dhuhur. Harapannya, agar proses umrah tidak sampai terlalu larut malam. Usai subuh, kami  berpamitan pada Rasulullah dan memohon pada Allah untuk kelancaran ibadah umrah kami.
Menyempatkan makan siang lebih dulu, jamaah umrah sudah dalam posisi mengenakan pakaian ihram sebelum salat dhuhur dan ambil miqot di Bir Ali. Jamaah langsung naik bus dengan membawa seluruh barang bawaan dan oleh-oleh yang telah dibeli. Sepintas saya masih bisa melihat kubah hijau dari kejauhan. Ya Allah, air mata ini menetes tanpa saya sadari. Semoga Allah berkenan, menghadirkan kami kembali bertemu Rasulullah. Aamiin. (buari/han/bersambung)

Berita Lainnya :