Tak Cukup Sekali, Semua Ingin Datang Kembali


Labbaika Allahumma Labbaik Labbaika Laa Syaraikalaka Labbaik Innalhamda Wanni'mata Laka Walmulk Laa Syarikalak. Kalimat talbiyah ini kami kumandangkan dalam perjalanan menuju Makkah, tepatnya usai ambil miqot di Bir ‘Ali (Masjid Dzulhulaifah), setelah keluar dari Madinah, Rabu (21/3) siang. Kami pun memulai rangkaian ibadah umrah untuk pertama kalinya. Berikut catatan terakhir umrah Malang Post bersama Betravel Insan Islami yang ditulis Buari.
Rombongan jamaah umrah Betravel tiba di Al-Bustan Al-Maasi Hotel di Makkah sekitar pukul 18.10 waktu setempat. Langsung makan malam, posisi kami masih mengenakan pakaian ihram dan siap menuju Masjidil Haram untuk mengerjakan umrah pertama. Jarak hotel menuju masjid sekitar 500 meter, dan kami naik shuttle bus yang disediakan pihak hotel.
Perasaaan yang sama seperti saat tiba di Masjid Nabawi, kekaguman luar biasa untuk pertama kalinya kami melihat kemegahan Masjidil Haram. Ya Allah, inilah masjid yang menurut hadits shahih, satu kali salat di Masjidil haram sama dengan 100 ribu kali salat di masjid-masjid lain, kecuali Masjid Nabawi (1000 kali). Luar biasa.  
Meski tampak lelah usai perjalanan sekitar lima jam dari Madinah-Makkah, jamaah sangat antusias dan bersemangat menjalani umrah pertama ini. Kami masuk melalui pintu 88, karena masjid dalam proses renovasi, tidak semua pintu bisa mengakses hingga ke pelataran Kakbah. Kami ikuti saja, apa yang disampaikan Ustadz Fathur Rohman yang memimpin jalannya umrah.
Usai salat isya’ dan sujud syukur atas nikimat panggilan Allah ini, kami mulai melangkahkan kaki, berdesakan dengan jamaah lain dari berbagai negara, menuju pelataran Kakbah.  Perlahan saya mulai melihat Kakbah, hingga tampak utuh. Sambil memandang Kakbah, kami panjatkan doa. Ya Allah, kami datang. Kami memenuhi panggilanMu.
Berikutnya kami memulai tawaf. Mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali putaran yang dimulai dari garis Hajar Aswad dan berakhir di garis Hajar Aswad lagi. Tidak hanya kami yang berjumlah 38 orang dari jamaah umrah  Betravel, dalam proses tawaf ini bisa belasan, puluhan atau bahkan ratusan ribu orang. Berdesakan, kami tetap kompak dalam satu kelompok yang dipadu Ustadz Fathur.
Selesai tawaf, kami salat sunnah di belakang Maqam Ibrahim dan minum air zamzam. Berikutnya kami melakukan sa’i yang merupakan rukun umrah yang ketiga setelah niat dan tawaf. Sa’i adalah berjalan dimulai dari bukit Shofa dan diakhiri di bukit Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan. Dikerjakan tanpa terputus, ibadah yang satu ini cukup menguras energi. Khususnya rombongan kami yang sebagian besar lanjut usia.
Syukur Alhamdulillah, mereka semua bisa menyelesaikan sa’i dengan baik. Selanjutnya kami melakukan tahallul, yaitu suatu keadaan telah dihalalkannya 12 larangan yang dikenakan pada jamaah saat memulai ihram umrah, ditandai dengan memotong rambut. Tahallul merupakan rukun umrah yang terakhir.
Rangkaian ibadah umrah pertama pun usai.  Jatah resmi dari travel sebenarnya hanya dua kali ibadah umrah. Pertama Rabu (21/3) malam, kedua hari Sabtu (24/3) usai city tour. Kebetulan dari jadwal city tour tersebut, tujuan terakhirnya adalah singgah di Masjid Ji’ronah. Setelah sebelumnya berkunjung ke Jabal Tsur, Jabal Nur, Arofah, Jabal Rahmah, Muzdalifah dan Mina.

Berita Lainnya :

loading...